Jumat, 23 Januari 2009

Ini foto saya ambil di dekat rumah saya di Tangerang


kalau diperbesar...


Apakah hal ini menunjukkan sisi penghormatan terhadap calon legislatif kita?
Ataukah mereka memang tidak pantas dihormati?

Bukti : Obama Adalah Yahudi


Tahukah kalian apa yang sedang dilakukan Obama dalam gambar di bawah ini?







Untuk mencari tahunya, kunjungilah :
1. http://secretsocieties.wordpress.com/2008/11/12/terbukti-barack-obama-adalah-yahudi/
2. http://rumi-moslem.blogspot.com/

Kamis, 22 Januari 2009

Partai Yang Lebih Manis




Ayo pilih yang mana ?
Coba kertas suara pemilu nanti bentuknya kayak gitu.

Selasa, 20 Januari 2009

Boycotting Israel

Saya di-tag sama si Khemal nih...



here's what we should do. it's simple:
- list down 5 of the products from the list below that you are boycotting.
- then list down 5 of the products that you will try your best to boycott.
- finally list another 5 of the products that you find it hard to boycott.
- tag 5 others.


this tag is to get everyone to read the list below carefully and identify which products affects your life and the lives of the palestinians most! you can also compare your list with your friends and see: if they can boycott one product that you haven't been boycotting, why can't you start to boycott the product too?


5 products i'm boycotting
  • Mc Donalds
  • Coca Cola
  • Carrefour
  • Starbucks
  • KIT KAT
5 Products i will start to boycott
  • Fanta
  • Sprite
  • Nestle
  • Maggi
  • Danone
5 products that i find hard to boycott
  • Disney
  • Intel
  • FOX Entertainment
  • Nokia
  • National Geographic
5 people i tag
1. Adam
2. Tito
3. Vina
4. Naufal
5. Jupri

Aikon Desa Mana (?) Jadilah


Itulah aikon Desa Mana (?) yang telah saya buat.
1. Hijaunya tidak rata karena malas ah ngewarnainnya.
2. Foto saya benar-benar "Foto Saya", supaya orang menyebut-nyebut nama desa saya "Mana (?) fotonya?"
3. Tunas Kelapa hijau karena suapaya deketan sama Pramuka.

SMS Tidak Nyasar

Pagi tadi saya setelah bangun, saya teringat handphone yang mati karena kehabisan baterai. Saya pun men-charge-nya. Sembari dinyalakan, ternyata ada gambar amplop kuning mini di atas layar handphone saya. Bagi yang tidak tahu, saya kasih tahu kalau itu adalah tanda ada SMS masuk ke nomor saya. Saya buka itu SMS yang isinya :

BANGUNLAH AMBIL AIR WUDLU SHALATLAH MOHON DOA BACA Al Quran

Dua buah SMS yang isinya sama persis itu dikirim ke saya pukul 02.41. Tapi nomornya tidak tersimpan di hp saya. Oleh karenanya bikin saya membalasnya. Berikut dialog seterusnya:

Saya : Maaf, ini no. syp? Trima kasih sdh mngingtkan.
SMS : ayahandanya amalia sholihah mhsws elekr sms 1 smg jd srjn baik dunia akhrt

Saya belum ‘ngeh’ siapa dia. Saya kira itu ayah saya. ‘Kan ada kata ayahanda. Saya berpikir, ‘Wah…tumben si papa bahasanya sopan amat.’

Saya : Papa? Gile, no. baru, Pa? Banyak banget sih hape-ny? Aq simpen ya nomernya.
SMS : Itulah no ku smpnlh titip anaku ikat erat dgmu mahami amali ilmu dunia akirat dia tgal di astri ganesa

Saya tiba-tiba tambah bingung. Ini papa saya atau papa siapa? Tulisannya aneh2.

Jangan-jangan dia om-om penggoda…

Saya : Astri ganesa? Asrama putri? Siapa?
SMS : amalia sholihati mhsi itb elekr smst 1 tinggal diasrama putri itb
Saya : Lha…itu stei 2008 atw udh msk jurusn elektro slm 1 smstr?
SMS : saat ini baru ikut kuliah bsma abis itu baru pnjsn ananda sdri satu anktn jrsan dg amalia kan sukron

Saya mulai ‘ngeh’ nih. Berarti dia bukan papa saya. Dia papa orang lain namanya amalia. Saya langsung kepikiran nama panggilan anaknya itu ‘Lia’. Tapi saya yakin ga kenal sama anak namanya Lia di STEI. Paling Nadine, Dea, Adam, Niki, Fathin, Riska, Yulyan, Maul, Ade, Aldi, Dep, ya sutralah banyak juga.

Saya : Tp sy g’knal sm anak Bapak. Y udah nanti sy kenalan, Pak.
SMS : no ananda kdpt swaktu ananda pesan religi pd hp anakku afwaN

Nah lho…sapa ya? Saya jadinya melihat phonebook. Begitu saya dapati nama seseorang “Amal STEI”.

Saya : Oalah…si Amal, Pak? Saya kira nama anak bapak Lia. Yo wes. Inget-lah.
SMS : sukron insya alloh jadi dua hamba yg penuh bimbingan ridho alloh amin
Saya : Amin

Moral : Kalau ada SMS yang menurut Anda-anda nyasar, jangan ga dibales, kar’na sapa tau Anda-anda malah dapat doa.

Perseteruan Tentang Dewi Persik

Kisah nyata ini terjadi sekitar pertengahan bulan Desember 2008 atau awal Januari 2009, agak lupa. Saya dan kedua teman 2008 sekost-an sedang menikmati santapan malam infotainment yang beritanya mengenai Kang Syaiful Jamil. Lebih kurang sama dengan begini dialognya.

Wiwidhe : Syaiful Jamil katanya tidur bareng lagi sama istrinya tuh…

Saya : Yo’i.

Sapi : Siapa? Dewi Persik?


Hening sejenak…


Wiwidhe : Bukan ah. Dewi Persik.

Sapi : Mmm…kalo ga salah tu Dewi Persik deh.

Saya : Ih bukan dia! Dewi Persik!

Sapi : Gue yakin itu Dewi Persik.

Wiwidhe : Dibilangin…Dewi Persik tau’!

Saya : Heh…yang punya TV sapa? Yang lebih sering nonton infotainment sapa? Itu tuh Dewi Persik!

Wiwidhe : Gue tau lu ahlinya dangdut, chan! Tapi bukan dia! Yang bener ‘tu Dewi Persik!

Saya : Bukan, Widh! Dewi Persik!

Sapi : Mmm…gue sih ingetnya Dewi Persik.

Wiwidhe : Ah lu pada susah dibilangin…

Sapi : Ngga usah ngotot gitu, Widh…seinget gue sih Dewi Persik.


Mereka bertiga lalu nyengir-nyengir sendiri setelah berita di TV digantikan oleh artis dangdut lain.



Senin, 19 Januari 2009

Aikon Desa Mana (?)

Saya berencana membuat sebuah aikon, sebut saja logo (bukan merek sepatu) yang gambarnya harus berupa kelapa hijau bertunas. Kenapa hijau? Terserah saya. Kenapa tunas ? Karena Desa Mana (?) menjunjung tinggi asas-asas ke-Pramuka-an yang Mana (?) cinta tanah air. Cinta tanah bercampur air. Berlumpur, katakanlah.
Dan 1 YANG PALING PENTING. Yakni di dalam kelapa itu harus ada muka saya karena saya adalah KELAPA DESA. Pemberi kesegaran.
Kendala saya adalah saya belum menemukan foto saya yang paling bagus untuk dijadikan bagian dari aikon Desa Mana (?) ini. Atau apakah saya membuat sayembara saya bagi siapapun yang mau membantu membuatkan aikon ini? Saya punya hadiah untuk yang menang, meski bukan jalan-jalan sehari bersama saya, tapi adalah hadiahnya adalah titik-titik.
Terima kasih dan kembalikan, Dilarang Ngutang!

Pengakuan Kedaulatan DESA Mana (?)

Saya ini mencalonkan diri sekaligus mencetuskan berdirinya sebuah desa bernama Mana (?) yang mana wilayah itu sering dilupakan orang dikarenakan namanya Mana (?). Daerahnya terdiri dari 1 kelapa desa yaitu saya, 3 RW, masing-masing RW ada 3 RT, masing-masing RT ada 3 kepala keluarga. Kenapa 3? Bukan karena saya pakai GSM 3, tapi saya mau 3.
Seperti halnya OSIS, saya punya proker yang akan saya pos-kan lebih lanjut. Misalnya irigasi langsung dari Pertamina supaya di saat BBM langka, warga Mana (?) justru kaya, jadi bisa menjual mahal BBM kepada orang-orang. Uangnya untuk otonomi peng-foya-foya-an desa dan peluasan wilayah.
Yang Mana (?) saya sudah punya orang-orangnya para ketua RW, ketua RT, dan kepala keluarga karena mereka adalah saya sendiri yang Mana (?) merupakan orang-orang yang pantas dipertanyakan Mana (?) orangnya?
Peresmian Desa Mana (?) akan saya laksanakan secepatnya tanpa seijin pemerintah karena wilayah Mana (?) akan bikin orang bertanya Mana (?), jadi saya kasihan sama pemerintah kalau harus mencari wilayah Mana (?). Biar saja saya yang tahu wilayah Mana (?). Yang Mana (?) sebenarnya itu bisa ada di Mana (?) saja.
Untuk peraturan dan lain sebagainya akan saya beritahukan kepada Anda-anda semua yang Mana (?) secepatnya saya post-kan di blog ini. Secara saya butuh Pengakuan Kedaulatan Desa Dunia dari desa-desa lainnya yang Mana (?) nanti akan saya buat sendiri namanya Persatuan Desaku mencakup Sableng sampai Merak'e.
Saya mohon atensi Anda-anda semua untuk sama-sama membantu saya yang sudah hitam untuk mendirikan desa ini. Saya butuh pengakuan kedaulatan secepatnya.
Terima kasih dan kembalikan, Dilarang Ngutang!

Gak Kalah Sama MADTARI

Gak Kalah Sama MADTARI

Saya mau cerita tentang setengah hari dan setengah malam saya tanggal 18 kemarin. Saya enaknya mulai dari mana ya? Mulai dari jam 5 sore saja, yang mananya saya masih di warnet namanya Pandusiswi kalau saya tidak salah, yang mana berarti saya benar. Saya menyudahi nge-warnet saya yang menghabiskan uang 10.500 rupiah. Lalu saya diam sejenak di depan pintu warnet. Saya kepikiran mau makan lumpia basah.

Tapi saya pulang dulu ke kost-an, mau shalat ashar. Habis itu beli makan yang rencananya buat makan malam, tapi jadinya saya makan langsung setelah dibeli. Tapi ternyata perut seolah-olah punya perut, jadinya si perut saya minta diisi lagi perutnya. Saya yang tadi mau makan lumpia basah akhirnya jalan ke Simpang, mau menemukan lumpia basah dan memakannya.

Saya lalu menyeberang ke seberang, karena kalau menyeberang ke tepian rasanya tidak lazim. Di sana saya masuk jajaran pasar Simpang. Saya berkeliling muter-muter berkali-kali untuk menemukan gerobak bertuliskan “lumpia basah”, tapi nyatanya berjalan sudah sampai ke Dipati Ukur dan kesasar di Tubagus Ismail, saya belum menemukan penjual lumpia basah juga.

Sambil melirik-lirik saya ketemu sama penjual cireng berisi. Setahu saya diisi semacam keju atau sosis atau bakso. Biasanya sih begitu. Tapi saya lewati saja karena saya maunya ketemu lumpia basah, bukan cireng isi. Tapi memang berkali-kali dicari bolak balik belum ketemu juga.

Saya tiba-tiba kepikiran ingin makan keju. Tapi kalau cireng isi keju yang dulu pernah saya beli isi kejunya cuma se-upil. Bahkan mungkin upil saya pernah lebih besar dan lebih banyak kalau dikumpulin. Akhirnya saya masuk ke sebuah took di Simpang, mencari keju batangan. Ada keju CHEDDAR (sebut saja merek, biar sekalian promosi). Harganya 17.500 rupiah. Wah…mahal ah. Jadi saya tidak beli.

Karena berkeliling tidak menemukan lumpia basah, kaki saya sepertinya punya kaki sendiri. Masa’ dia jalan ke arah penjual cireng isi. Kan saya jadi kebawa. Ya sudah, saya beli cireng isi keju 2 dan 1 isi sosis pedas. Semuanya 3 ribu. Lumayan. Karena kalau di depan ITB, 1 harganya 1.200/1.500. kurang ajar itu tukang cireng ITB. Mengorupsi uang saya.

Lalu saya pulang deh ke depan kosan. Tapi sesampainya saya di depan pagar, saya tiba-tiba jadi mau makan keju yang banyak. Mengingat waktu di handphone saya ada tulisannya angka 18.49, jadinya saya masuk ke kost-an dulu untuk shalat maghrib. Saya kan masih ingat Tuhan yang sudah menganugerahi saya hasrat makan keju hari ini.

Setelah shalat, saya keluar lagi. Kaki saya menyuruh kakinya dia untuk membawa saya berjalan ke arah Indomaret. Saya mau beli keju batang. Sampai di sana, saya bersyukur karena harga keju CHEDDAR 180 mg harganya 17.300 rupiah, 200 perak lebih murah dari yang di Simpang. Jadinya saya beli itu keju.

Pas mau masuk ke gang kost-an, saya tiba-tiba mau makan kwetiaw. Jadi saya bukan belok ke kiri masuk gang, saya tapinya lurus mau beli kwetiaw di dekat belokan jalan Cisitu. Saya masuk ke warungnya, pesan 1 kwetiaw goreng. Lalu saya duduk menunggu di kursinya.

Karena benar-benar lapar, keju batangnya saya buka lalu saya mulai makanin itu keju batang. Yang paling ujungnya itu paling nikmat. Gigitan pertama di ujungnya yang bentuknya masih lancip. Paling mantap. Tapinya orang yang merokok di depan-agak-ke-kanan saya sempat bengong melihat saya. Terus dia berpaling, melanjutkan merokoknya. Saya yakin dia sebenarnya mau minta keju batang saya, tapi tidak akan saya kasih. Kalau dia kena rabies bekas liur saya, saya tidak mau tanggung jawab. Salah sendiri kenapa dia tidak beli keju batang seperti yang lagi saya makanin.

Abang tukang masak kwetiaw juga gitu. Dia bertanya pedas atau tidak, tapi sempat bengong melihat saya makanin keju batang baru. Dia pasti juga mau minta sama saya. Kasihan. Sudah susah-susah masakin kwetiaw buat saya, masa’ nggak saya kasih imbalan. Tapi nggak mau saya, nanti kalau saya kasih keju dia malah nggak masakin kwetiaw buat saya.

Sudah masak, sudah dibungkus, saya bayar kwetiaw-nya. Lalu sampai di kost-an, saya dan Sapi yang selalu numpang nonton TV di kamar saya tiap malam, menonton TV lagi malam ini. Nonton Trans TV. Saya buka kwetiaw lalu tengkurap dengan garpu di tangan kanan dan keju batang di tangan kiri. Saya tengkurap bukannya mau tidur dengan muka di atas kwetiaw, tapi saya sedang meniru kebiasaan makan teman saya.

Setelah makan kwetiaw pakai keju, saya melanjutkan makan cireng isi yang tadi beli di Simpang. Pakai keju banyak juga. Saya baru ingat kalau punya pisau, tapi malas mengambilnya jadi saya lanjut makanin saja keju batangnya langsung pakai mulut. Saya pokoknya makan berat banyak dan makan keju banyak malam itu. Gak kalah sama waktu di Madtari yang sampai eneg makanin keju parutnya. Malam ini saya makanin kejunya pas di bentuk batang, bukan diparut. Ternyata lebih puas karena bisa gigit gede-gede.



Minggu, 18 Januari 2009

Yoyo & Inspirasi Menjaga Bumi


Itu adalah komik buatan saya yang mana mau diikutin lomba Muda-KOMPAS. Sengaja saya buat terbalik biar bikin yang baca miring-miring. Tapi sebenarnya yang bikin begitu adalah karena saya ga tau gimana caranya me-rotasi gambar hasil scan itu. Saya memang cukup gaptek, tapi itu kan urusan saya mau gaptek-mau kagak. Mudah-mudahan bisa menang tapi kemungkinannya keciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiillllllllllllllll
banged. Pokonya saya mah ngirim aja sapatau dapet honor buat siapa-siapa yang kirim karya.
Kan saya mau duitnya. Saya mau duit bukan karena saya mata duitan. Bukan. Mata saya normal, bukan duitan. Saya memang mau dapat uang aja buat beli makan banyak.

Saya Sibuk

Saya liburan ini dihadang oleh brainstorming Boulevard lalu diajak jadi panitia Ganesha Hijau yang semakin bikin saya mengundur pulang. Mana lagi ada teman saya di Jakarta mengajak saya datang ke seminar di Sabuga tanggal 25 Januari 2009 jam 1 siang, yang mana padahal malamnya saya ada acara Alcatraz di IC sampai malam. Lalu diajak teman lagi di acara 102 H dan FANS di rumah teman sesama IC.
Bused dah. Ternyata teman-teman saya memang bilang kalau saya ini sibuk. Baru sekarang saya sadar kalau saya memang sibuk. Tapi itu kan urusan saya. Mestinya teman-teman saya kasih saya makan ya, kalau tahu saya ini sibuk.

Senin, 12 Januari 2009

Musyawarah Kerja Boulevard (2)

Pukul 02.00

Malam yang dingin dan menegangkan sepertinya bagi Nise (Dwi Arryma Niza), dengan (terlihat) ngantuknya, namun tatapan masih tajam dan muka masih memberikan kesan galak. Dalam LPJ ini, saya menangkap bahwa kurangnya koordinasi antara Nise dan staf-staf redaksi serta dengan para pemimpin bidang lainnya-lah yang paling banyak disinggung. Satu hal yang mencengangkan saya bahwa ini kali pertama saya bertemu perempuan dengan tampang berkesan jutek dan bernada bicara galak, tetapi tetap cantik (serius, cantik!) di tengah ketegangannya. Fakta bahwa sebenarnya bukan saya saja yang berpendapat seperti ini. Ha ha ha.

Pukul 03.56

LPJ untuk Nise selesai dilaksanakan. Seperti Windy, semua menerima LPJ-nya. Saya sebenarnya berpikiran bahwa untuk redaksi ini, tidak ada kesalahan berarti. Jadi, pantaslah kalau diterima. Arfah atau Jofa (saya lupa) selaku moderator memberi waktu istirahat. Namun, istirahat diberikan lebih untuk melaksanakan shalat Subuh. Istirahat kali ini merupakan satu-satunya hal yang paling dinantikan oleh semua Boul’ers (kecuali Ray). Karena (gila) semalaman tidak ada waktu untuk tidur. Waktu terlewati (bukannya tak berarti) dengan mendengarkan cercaan-cercaan para petinggi Boulevard terhadap ketiga pejabat Boulevard yang akan segera turun ini.

Pukul 05.50

LPJ untuk pejabat tertinggi dalam Boulevard telah tiba. Dengan tampang beler, ngantuk, dan nafas bau odol para Boul’ers duduk kembali di atas karpet. Ray memulai LPJ–nya dengan sedikit mengoceh tentang asal-usul dirinya dalam Boulevard. Musyawarah (lagi-lagi) 90% (dalam perhitungan abstrak saya, ha ha ha) menyinggung total kepribadian Ray, terutama mengenai ketidaktegasannya selama kepengurusan. Namun, tidak seperti Dipta, ada beberapa orang yang mendukung calon ‘mantan PU’ ini, terutama Ika, yang memang telah yakin bahwa Ray mampu sedari awal untuk memegang jabatan tersebut.

Dalam LPJ ini saya baru pertama kali melihat Ray banyak terdiam lesu, tegang, dan tidak mengoceh seperti biasanya. Ha ha ha. Bisa juga dia anteng (kalem).

Pukul 08.55

LPJ selesai ditandai dengan mutlak (semua setuju) diterimanya LPJ Ray.

Sekitar pukul 09.40

Acara terakhir dari MuKer ini adalah pemilihan para pejabat baru di Boulevard selanjutnya. Dimulai dari PU, yang mana Ray mencalonkan Panji dan Devy. Keduanya dipersilahkan keluar sejenak agar kami, Boul’ers bebas menyuarakan pendapat mengenai plus-minus-nya memilih salah satu dari mereka.

Usai berdiskusi, kedua orang calon PU tersebut dipanggil satu-satu untuk dibantai oleh pertanyaan seputar ‘menjadi PU’. Diawali oleh Devy yang berakhir dengan kata-kata ‘Gw lebih nyaman menjadi PemRed’.

Devy dipersilahkan kembali keluar, berganti Panji. Ya pada intinya pertanyaan yang diajukan adalah sama. Langsung saja pada hasil akhir yang membuktikan bahwa ke-multiable-an Panji dalam 3 bidang Boulevard itu berarti sebagai pengantar menuju Pemimpin Umum.

Pemilihan selanjutnya adalah PemRed (Pemimpin Redaksi). Nise mencalonkan Devy (lagi?!) dan Vivin, yang tidak hadir dalam MuKer (menyusul). Namun, terlihat jelas bagi saya bahwa Nise pun sebenarnya lebih cenderung ke arah Devy yang telah meyakinkan Boul’ers bahwa Boulevard adalah prioritas utama melebihi kuliah baginya. Yang lain pun setuju, mengingat Vivin adalah orang yang sibuk. Akhirnya, hasil voting menentukan bahwa Pemimpin Redaksi baru di Boulevard adalah Devy.

Selanjutnya adalah perusahaan. Windy (TL 07) mencalonkan Hasan (KIM 06) dan Niki (STEI 08). Niki sedari awal sudah mengatakan tidak siap untuk hal ini. Untungnya pernyataan tersebut didukung oleh semua yang berpikiran sama, yakni ‘mempersiapkan Niki untuk satu tahun ke depan’. Maka, terpilihlah Hasan sebagai Pemimpin Perusahaan yang baru.

Pemimpin terakhir yang harus dipilih adalah Redaktur Artistik. Terlihat bahwa Dipta kewalahan mencari calon. Ia pun mengikuti saran Panji, yang menginginkan Gio kembali menjabat kedudukan tersebut. Dipta pun mencalonkan (prematur) Yudhi dari 2008. Namun, Yudhi menolak, malah mengoper pencalonan ini kepada Faisal yang juga 2008.

Setelah kedua calon dipersilahkan keluar, Boul’ers bermusyawarah lama. Semua kebingungan. Di antara 2 orang tersebut, semua cenderung memilih Gio. Sayangnya, Gio telah menjadi Kadiv. di himpunannya, Fisika Teknik. Belum lagi keaktifannya di Gamais, dll. Semua merasa kasihan apabila ia harus mengemban tambahan tanggung jawab (yang pernah ia emban dahulu) di sela-sela prioritasnya yang lain. Jika memilih Faisal, teman-teman se-artistik serta Panji yang notabene-nya telah menjadi Pemimpin Umum keberatan karena yakin nantinya selain harus berurusan dengan otak (pemikran) ,tapi juga harus berurusan dengan hati (perasaan). Lagipula, ditakutkan kepengurusan akan seperti pada masa Gio yang dahulu juga prematur, pengalaman kurang.

Dengan diskusi alot tersebut, Boul’ers belum menemukan mufakat. Di sela-sela, Dipta menghubungi Ciduy, memintanya untuk mau menjadi calon Redaktur Artistik. Dengan jawaban bahwa Ciduy mau menerima permintaan tersebut, akhirnya musyawarah ditunda karena menunggu ‘kampanye’ dari Ciduy esoknya di sekre, pukul 08.00.

Sekitar Pukul 14.00

Waktunya untuk pulang. Sebenarnya Ray tidak menjadwalkan pulang jam segitu, tapi apa daya energi masing-masing personal sudah tidak mencukupi untuk bersenang-senang ria. Bahkan Panji (terlihat) tidur nyenyak di atas kursi. Usai makan siang dengan ikan bakar ber-karsinogen dan pahitnya minta ampun dari Botram, Boul’ers kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sekali lagi menumpang mobil orang.

Musyawarah Kerja Boulevard (1)

Musyawarah Kerja Boulevard


Saat itu menjadi siang yang dingin ketika saya sedang berjalan kaki menuju sekre Boulevard. Memang akhir-akhir ini Bandung sering gerimis sampai-sampai udaranya terasa dingin meskpun belum turun gerimis, apalagi hujan. Ingin hati ini mencitu, namun tidak bolehlah. Saya ‘kan berniat mengikuti kegiatan Boulevard. Bagian depan sekre-nya yang berbau apek juga (ternyata) tidak menciutkan hati saya.

FYI, kegiatan Boulevard ini berjudul MuKer (musyawarah kerja) yang akan diadakan di Padasuka (entah di mana tempatnya). Kegiatan ini mengambil waktu sebanyak 2 hari 1 malam, dterbagi menjadi 3 acara, yakni Aku & Boulevard, LPJ, serta pemilihan para pemimpin baru. FYI lagi, Boul’ers (sebutan untuk anggota Boulevard) diharapkan berkumpul di sekre pukul 11.00.

Pukul 11.04

Saya menginjakkan kaki di sekre Boulevard. Di dalamnya sedang duduk Hasan dan beberapa teman 2008. Saya duduk dan mengikuti obrolan kecil dalam kumpulan orang tersebut, sembari melirik-lirik sejenak ke arah televisi.

Sekitar Pukul 12.00

Ray, si Pemimpin Umum, orang yang kami tunggu sedari tadi tak kunjung datang. Kami, orang-orang yang berada dalam sekre akhirnya memutuskan untuk shalat dan makan siang dahulu di Salman.

Sekitar Pukul 14.30

Meskipun Ray belum terlihat batang hidungnya, kami yang sudah datang ini memutuskan untuk pergi dahulu. Secara transport (mobil Niki dan Dep) sudah tersedia. Setelah masuk ke mobil tumpangan masing-masing, datanglah Ray dengan wajah tegang (faktor akan di-LPJ nanti malam) bersama motornya. Arfah selaku orang tertua di sana, sempat jengkel dengan menegur Ray. Namun, akhirnya kami berangkat juga. Urusan yang lain bagaimana, itu resiko datang terlambat.

Sekitar pukul 16.00

Sampailah kami di tempat tujuan. Sebuah rumah milik adik kelas Dep (kembar) dengan jalan menuju ke dalamnya yang tak beraspal menjadikan rute cukup sulit dilalui. Untunglah sepanjang perjalanan, saya tidur.

Sekitar pukul 17.00

Aku & Boulevard dimulai. Acara ini hanya sebagai ajang cerita-cerita mengenai diri kita menjelang dan selama menjadi Boul’ers dengan moderator Arfah.

Pukul 19.40

LPJ dimulai. Jujur baru kali ini saya menghadiri sebuah musyawarah yang alot dan memakan waktu lama dalam satu waktu. LPJ yang pernah saya alami sewaktu SMA hanyalah sebatas orang-orang bertanya atau lebih tepatnya meminta pertanggungjawaban dari para petinggi OSIS, dan 1 orang petinggi hanya beberapa menit.

OK. Mulai saja. Orang yang pertama di-LPJ kan adalah RedArt (Redaktur Artistik), Ardya Dipta. Ia duduk di sebuah kursi, sebutlah hot seat, di tengah-tengah kami para boul’ers yang duduk lesehan bersandarkan tembok-beralaskan karpet. Saya, yang mana ingat bahwa dalam suatu musyawarah perlu ada seorang notulen, berinisiatif mencatat. Baru beberapa menit mencatat secara manual (tulis pakai pensil), saya sudah disodori laptop oleh Ray. ‘Tulis di sini aja,biar gampang’, katanya.

Saya bersemangat sekali menulis. Semua yang diomongkan dalam musyawarah itu saya tulis. Orang yang bertanya, jawaban dari Dipta, pokoknya hal-hal yang disampaikan sehubungan dengan LPJ. Dep, orang di sebelah saya, bahkan pernah ber-ckckck menanggapi suara ketikan tangan saya. Tidak apa-apalah, biar nggak ngantuk.

LPJ untuk Dipta merupakan awal musyawarah yang ekstrim bagi saya. Bagaimana tidak? Yang saya tangkap, semua orang memberi kesan memojokkannya. Hal yang paling disinggung adalah mengenai kepergiannya (yang sangat salah waktu) ke Australia saat orang malah membutuhkan sosok pemimpin bidang artistik. Masalah lain adalah kecerobohannya pada edisi 61 mengenai deadline artistik. Ujung-ujungnya, para penanya, menanyakan prioritas Boulevard baginya, yang kemudian dijawab dengan jujur bahwa ia lebih senang berada di himpunannya, Elektro. Suatu hal yang sangat saya maklumi, karena saya pun belum merasakan kenyamanan berada di Boulevard.

Namun, satu hal yang membingungkan saya adalah dalam musyawarah ini, karakter/kepribadian seseorang dibawa-bawa, bahkan lebih banyak didiskusikan ketimbang cara kerjanya.

Pukul 22.45

LPJ untuk Dipta telah selesai dengan hasil voting: Tolak=3 suara dan Terima=22 suara. Berarti, LPJ-nya diterima. Waktu istirahat diberikan oleh Arfah selama 10 menit sebelum dilanjutkan kepada LPJ Windy.

Pukul 23.05

LPJ kedua dari Pemimpin Perusahaan, Windy Iriana. Saya digantikan Nurul untuk menjadi notulen. Makanya saya kurang fokus mendengarkannya karena ngantuk. Sepertinya, hal yang paling disinggung adalah mengenai harga jual Boulevard yang dianggap oleh para petinggi kurang sesuai dengan isi Boulevard itu sendiri alias kemahalan.

Pukul 01.45

LPJ untuk Windy selesai. Semua menerima LPJ-nya, tanpa terkecuali saya. Untuk bidang ini, saya memang dari awal yakin kalau Windy telah memberikan kinerja yang baik.

-bersambung ke bagian 2-

Pantaskah Menjadi Insan Yang Cendekia?

Pantaskah Saya Menjadi Seorang Insan Yang Cendekia?

Saya adalah alumni dari sebuah sekolah menengah atas berlabel Madrasah, yakni sekolah berasrama milik Habibie bernama Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Serpong. Sebuah kampus islami yang mengedepankan Imtak (iman dan takwa) dan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Saya masuk ke kampus ini sebagai angkatan ke-11, pada tahun 2005.

Sebenarnya hal yang akan saya tulis di sini sudah basi, tapi saya masih tertarik untuk mengungkapkan pendapat saya menyangkut hal ini. Latar belakang hal ini terpikirkan oleh saya adalah karena tak berapa lama kemarin, usai menjalani UAS bahasa Inggris, sempat tertangkap oleh telinga saya, beberapa alumni IC atas-atas tak sengaja berkenalan dan hal yang mereka bicarakan adalah mengenai IC.

Maghrib itu, tanggal 5 Januari 2009, seusai UAS KPIP, saya pergi ke ATM Center (Mandiri) ITB untuk mengambil uang dengan tujuan membayar biaya kos per bulan (hahaha). Tak sengaja saat mengantri, di dekat ada saya ada Kak Dimas jurusan Informatika yang mana saya ingat sebagai alumni IC tahun atas-atas. Kak Dimas sedang duduk di kursi panjang, dan tiba-tiba ia didatangi oleh dua orang wanita berjilbab.

“Dimas…kenalkan. Alumni IC juga lho…” kata salah seorang wanita yang berjilbab tersebut. Mereka pun saling berkenalan tanpa bersalaman (di Insan Cendekia, menyentuh lawan jenis adalah salah satu hal terlarang dikarenakan bukan muhrim). Dialog pun dimulai…

Jilbab 1: “Oh…saya tahun 1996. Cukup jauh ya kita…”

Dimas: ”Iya, Kak. Benar.”

Jilbab 1: “Gimana keadaan IC sekarang?”

Dimas : “Wah…kurang tahu, Kak. Kan saya sudah lama juga nggak ke sana.”

Jilbab 1: “Saya jujur nih kangen sama IC. Gimana ya keadaannya?”

Jilbab 2: “Ya Tanya saja sama yang baru masuk, Kak.”

Dalam hati saya berpikir, ‘Wah…itu saya!’ Sebenarnya saya sangat ingin memperkenalkan diri sebagai alumni IC pula (cukup narsis ya?!), namun percakapan selanjutnya menciutkan hati saya.

Jilbab 1: “Oh iya…2008 ya? Gimana ya mereka? Mungkin anak-anaknya sudah pada biasa nonton bioskop seminggu sekali ya? Kalau saya dulu mah…boro-boro. Keluar sedikit saja segan, gara-gara ada Intel di mana-mana. Terus kalau ketahuan ke bioskop, langsung diumumkan di depan masjid, disidang ramai-ramai.”

Beberapa kalimat yang teruntai dari mulut kakak tersebut seakan menghujam hati saya. Betapa berbedanya budaya zaman dahulu hingga sekarang, setelah tak berapa lama saat saya mendapat label ‘Alumni IC’. Perubahan menuju ke arah yang lebih ‘tidak baik’.

Dalam hati saya berpikir betapa sulitnya menjadi seorang siswa IC dahulu. Berbeda dengan pada zaman saya, di mana nonton bioskop (bahkan sebenarnya) bukan sekedar seminggu sekali, tapi tiap malam bisa nonton berkali-kali menggunakan laptop (ILEGAL). Berkaitan dengan hal ini, saya teringat pula dengan kenangan-kenangan saya semasa SMA yang ‘akrab’ dengan ke-ILEGAL-an dalam standar kampus IC. Baik itu Laptop, Handphone, dan Pacaran (untuk yang satu ini bukan saya yang mengalami, hanya teman-teman).

Maka terlintas dalam benak saya, bahkan sampai hari ini, ‘Sudah pantaskah saya disebut sebagai alumni IC?’ Seorang alumni keluaran kampus ISLAMI yang katanya satu-satunya Madrasah yang setaraf dengan SMA-SMA Negeri lain.

Sudah pantaskah saya disebut sebagai Insan yang Cendekia?

Hingga saat ini, saya sadar bahwa saya belumlah menjadi orang yang dapat menyandang status ‘alumni IC’. Baru sebatas alumni, belum IC. Saya sadar betul akan hal itu, karena dilihat dari cara berpakaian yang (berjilbab sih berjilbab,tapi belum memenuhi syariat Islam yang sebenarnya), cara berbicara (blak-blakan plus dominan ‘lu/gue’) dan bergaul, semuanya tidak mencerminkan bahwa saya adalah Insan yang Cendekia.

Memang status insan yang cendekia bukanlah mengacu pada standar berpakaian, standar berbicara dan bergaul, akan tetapi (setidaknya yang saya tahu) ketiga hal tersebut adalah salah satunya.

Namun, bukan saya saja yang diragukan akan hal tersebut. Saya pun merasa kalau teman-teman seangkatan dan beberapa kakak angkatan IC lainnya pun begitu. Lantas, apa solusinya? Masalahnya, saya tidak tahu standar apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang Insan yang Cendekia. Teman-teman pun tidak tahu. Mungkin ini hanya masalah perasaan masing-masing yang menyebutkan ‘Ya, saya sudah pantas / Belum, masih dalam proses’.

Entahlah…

Tapi, saya hanya bisa berharap dan berusaha agar saya dapat benar-benar menyandang status Alumni IC bukan secara label, tapi juga secara ISI.

Amin.

Minggu, 11 Januari 2009

Bermalas-malasan Itu Menyenangkan

Mestinya kemarin gw tu ngerjain tugas alumni IC.
Tapi apa daya kemalasan gw membuat gw berbaring lelap menindih laptop, sampe temen sekosan yg numpang nonton Eiffel...i'm in love musti ngegeser2 pantat gw buat mindahin laptop ke karpet. Inilah sebenarnya kebiasaan buruk yang tidak patut ditiru, tpi sebenernya wajar banget dialami kale...
Biarin aja-lah. Malas ga' bikin gw mati kan hingga saat ini. Setidaknya blom, kcuali gw menjadi org yg malas makan bebulan-bulan gara2 warung makan terasa smakin menjauh, atau malas ngeberesin kamar yg bs bikin semut-semut en serangga sekawanannya main2 ke kamar, mengerubungi gw yang lelap tertidur, kurus kering kerempeng, memakan daging gw yang manis, terutama wajahnya.
Tapi pokoknya malas itu adalah sesuatu hal yang amat wajar dialami oleh kita semua. Ya. Gw jdi ngerasa ngisi 'sampah' nih. Tambahan lagi...jangan malas nyari pacar baru, bisa2 jdi frustasi pengen gantung diri di kamar kos pake tali sepatu yang baunya kayak bangke tikus. Mati gr2 kebauan. Ga intelek kan? Gara2 malas tu.
Ah pokoknya gara2 gw merasa apapun yg gw lakuin adalah kisah gw, trus komputer itu adalah sobat gw, en warnet ini kamar kedua gw, semalas-malasnya gw tetep bisa nulis. Gile. Rajin bener. Ah...ga penting banget nulis 'sampah' beginian.

Jumat, 09 Januari 2009

SMS Berlabel "Demi Allah"

SMS Berlabel DEMI ALLAH

Al-Qayyum, Al-Majid, Al-Wajid, Al-Wahid, Al-Ahad, As-Shomad, Al Qadir. Sebarkan 7 Asma ALLAH ini pada 15 orang…Insya Allah keinginanmu akan tercapai (DEMI ALLAH Jangan Diremehkan).

Katakan ini dengan pelan : ALLAH AKU CINTA ENGKAU & AKU BUTUH ENGKAU. Datanglah ke hatiku.
Kirim ke 10 orang. Lihat keajaiban hari ini. Tolong jangan dihapus. Ini benar-benar terjadi. SMA dari Ibu ALISAID : Juru kunci sayyidina Mekkah. Bermimpi bertemu ROSULULLAH SAW. Beliau berpesan “Kuatkan Aqidah dalam ibadah karena dunia ini sudah goyah dan tua”. Sebarkan SMS ini ke 10 muslim. Maka Insya ALLAH dalam jangka 10 hari akan mendapatkan riski besar & jika tidak, tunggulah kesulitan yang tiada henti.
DEMI ALLAH

Kedua SMS tersebut sesungguhnya hanyalah dua dari beratus-ratus SMS sejenis yang bertebaran di Indonesia lewat perantara handphone. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah embel-embel “DEMI ALLAH” yang tertera di akhir kalimat.
Dilihat dari bunyinya, kedua SMS bersikap seolah menjanjikan si penerima SMS riski dan pada SMS kedua terdapat pula (seperti) ancaman. Tengoklah dari kalimat ‘Jika tidak, tunggulah kesulitan yang tiada henti’.
Tak pelak lagi, semua muslim semestinya tahu bahwa riski itu datangnya dari Allah, bukan dari SMS. Dan janji serta ancaman itu tertera dalam Firman-Nya, sekali lagi BUKAN DARI ISI SMS. Jadi, haruskah kita mempercayai isi SMS jenis tersebut?
Saya jadi teringat akan pelajaran Fiqh yang pernah saya pelajari di SMA dulu, (kalau tidak salah) bahwa seorang manusia wajib malaksanakan puasa kafarat, yakni puasa 3 hari yang dilakukan karena bersumpah atas nama Tuhannya. Berdasarkan definisi tersebut, saya menyimpulkan bahwa kata-kata ‘atas nama Tuhannya’ dapat disamakan dengan kata-kata ‘Demi Allah’.
Maka, SMS yang ditujukan kepada saya dan yang tersebar di belahan Indonesia lainnya, bukanlah suatu candaan belaka, karena hal ini sudah membawa-bawa nama Tuhan. Timbullah pertanyaan dalam benak “Apakah hal-hal seperti ini harus dipercaya dan dilaksanakan?”
Satu hal yang paling meresahkan adalah kekhawatiran saya akan terjadinya perbuatan syirik. Kita sebenarnya tidak tahu apakah bunyi SMS ini merupakan hal yang patut dipercaya atau tidak. Ditambah dengan embel-embel “Demi Allah”, malah justru menimbulkan kebimbangan apakah kita harus mempercayainya atau tidak.
Satu lagi. Mungkin bisa saja kita berdalih “Ah…saya tidak terlalu percaya. Jadi ya tidak apa-apalah kalau melaksanakannya (mengirim ke 10/15 orang muslim lainnya).” Akan tetapi sebenarnya, dengan melaksanakan hal tersebut, bukankah sama saja dengan kita mempercayainya? Atau kita dapat berdalih “Kirim SMS ke operator lain murah. Jadi ya tidak apa-apalah kalau dilaksanakan.” Lalu kita melaksanakannya, mengirimkannya ke muslim lain. Tetap saja, bukankah dengan melakukan sesuai perintah SMS, berarti mempercayainya?
Yang membuat saya bingung adalah penggunaan kata “Demi Allah”. Kalau memang si pembuat SMS tersebut ingin menyampaikan pesan yang ‘Benar’ menurutnya (isi SMS tersebut), lantas, mengapa harus menggunakan dua kata tersebut? Apakah ia takut apabila dua kata tersebut tidak digunakan, malah tidak ada yang mau melaksanakan perintah dalam SMS tersebut?
Masalahnya, sekali lagi, berdasarkan pelajaran Fiqh, saya yakin kata ‘Demi Allah’ tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi untuk ditulis dalam isi-isi SMS yang masih diragukan kebenarannya. Secara isi SMS tersebut bukanlah Firman / Sabda-Nya dan Rasul yang tidak dapat diganggu-gugat lagi kepastiannya.
Maka, melalui tulisan ini, saya berharap bagi siapapun yang lebih mengerti akan hukum-hukum menyangkut kasus ini, harap memberi komentar. Lebih tepatnya saran dan sharing ilmu pengetahuan. Jikalau pendapat saya dalam tulisan ini kurang tepat, mohon dibenarkan.
Terima kasih.

Kamis, 08 Januari 2009

PR dari Nadine

Yok!
Saya baru dari singgah dari kos Nadine dan sudah diBANTAI dengan seruan 'Bukalah Blog-mu!'. Tidak apa-apalah karena saya sedang hot-hotnya mengisi blog. Jadi...inilah jawaban dari PR saya.

RULE:
The rules are simple. Use google image to search the answers to the questions below. Then you must choose a picture in the first page of results,and post it as your answer. After that tag 7 people.

The Age of next birthday



Yup! Tahun depan saya akan berumur 19 tahun. Insya Allah masih bisa merasakan yang namanya berkurang umur tahun depan. Amin.

Place I'd like to Travel



Surga
Meskipun gambar di atas tidak menggambarkan keadaan surga, karena tak ada satupun makhluk yang tidak mengetahuinya, tapi di halaman pertama Google Image Search adanya itu. Siapa sih manusia yang tidak ingin mencicipi sejuknya tanah surga walaupun hanya setapak berdiri di sana.

A Favorite Place


Tempat tidur. Why? Karena pada malam hari, di tempat tidurlah segala kepenatan, kecemasan, dan renungan saya lakukan sebelum melanjutkan untuk menghadapi hari esok. Hmm...meskipun ada pula yang namanya 'kemalasan' di sana.

A Favorite Food



Makanan yang satu ini adalah ter-favorit sejauh ini. Banyak macamnya dan suka semuanya (kecuali pare doang, kayaknya). Makanya saya sangat bersyukur bisa menggemari (wuidih bahasanya...) makanan ini di saat orang-orang justru berpikir 100 kali untuk memakannya.
Bahkan, kakak dan adik saya tidak terlalu berminat terhadap makanan ini.

A Favorite Thing



Berkhayal mampu melambungkan daya imajinasi saya. Menggugah semangat dan dapat membangkitkan hasrat untuk mencapainya. Aha ha ha. Just imagine...

A City was Born



Surabaya, Surabaya, oh Surabaya
Kota kenangan, kota kenangan tak terlupakan
Di sanalah oh di sanalah, di Surabaya
Tempatku lahir, tempatku lahir
dan ada banjir...

Nickname I Had



UCAN. Nama panggilan entah berawal dari kapan, siapa, dan di mana. Entahlah. Saya sudah amnesia. Yang pastinya berlanjut hingga sekarang. Bahkan adik dan sang ibu pun ikut-ikutan memanggil saya dengan sebutan ini.

A Favorite Color


All of them. Based on my own's feelings and expressions. Whatever deh semua suka.

College Major



Ada tuh tulisannya di bawah posternya. Tahu-lah.
Amin.

Name of My Love


I love myself. Saking sayangnya, makanya saya berusaha untuk mempelajari dan membahagiakannya. Tiada yang lebih penting dari memahami diri saya sendiri.

A Hobby


Men-desain telah menjadi hobi saya sejak dahulu. Awalnya hanya bermodal tangan lewat goresan-goresan yang berbuah gambar. Sekarang, sudah ada bantuan laptop. Senangnya.
I have found myself in there!

A Bad Habbit



Parah kalau udah malas tuh...semua jadi ditunda-tunda!

My Wishlist



CHANGE.
Membuat perubahan pada bangsa Indonesia dengan membangun Taman Bacaan serta program2 pembelajaran gratis bagi anak-anak tak sekolah agar setidaknya mereka tidak buta huruf dan punya MIMPI.
Selain itu, membuat Panti Kreatifitas untuk orang-orang jalanan dan pengangguran agar mereka ga merusak keindahan dan kelancaran jalanan, tapi membudidayakan usaha dan kreatifitas mereka untuk bersama ditampilkan dalam sebuah wadah. Nantinya mereka bisa menghasilkan uang dan seperti dalam film Pay It Forward, yakni menyebarkannya kepada orang lain lagi.
Satu hal yang pasti ialah agar mereka sadar bahwa HIDUP mereka itu berguna.
Dan saya sedang dalam usaha mewujudkan hal tersebut. Baru berawal dari SEMANGAT dan MENABUNG.

Nah...itu dia jawaban PR saya. Sekarang, saya mau nge-tag 7 orang ini nih:
1. Naufal Ranadi Firas a.k.a kakak saya
2. Adam
3. Vina
4. Lawinda
5. Tito
6. Vera
7. Mirrah

OK. That's all.
Thank's yo, Nadine.






Rabu, 07 Januari 2009

Relay Obor #8 (2)

Relay Obor #8 (2)

Terra, sebagai himpunan yang pertama me-relay obor hari itu, sudah membangkitkan semangat kami, para panitia, lewat ajakan mereka untuk berlari membawa obor. Dari Geofisika, kami berjalan melewati Teknik Industri dan Mesin untuk dapat menginjakkan kaki di depan NYMPHAEA. Saat melewati HMM, gerombolan kami sempat ditegur karena di sana sedang diadakan ujian. Namun, teguran tak menumbangkan semangat Geofisika untuk tetap berlari. Sampai di depan mahasiswa NYMPAHEA, barulah mereka membungkam diam, segera membentuk lingkaran, lalu dengan aba-aba, semua diperintahkan turun.

Untuk apa?

Push up 2 seri.

Bahkan para panitia ikutan push-up. Tapi, saya dan Nella, yang sedang berdiri tepat di atas tangga, dengan bodohnya malah turun agar tidak terlihat oleh panitia lain. Supaya tidak disuruh push-up. Hahaha. Mau sih push-up, tapi memang tidak dapat space untuk melakukan push-up. Setelah push-up selesai dilakukan, TERRA menyerahkan obor kepada NYMPAHEA.

Suasana 360 derajat berbeda dengan TERRA. NYMPHAEA, yang memang banyak cewek-nya, justru memilih jalan perlahan menuju rute selanjutnya, ISF. Suasana berbeda juga terlihat dari jargon-jargon dan jenis suara yang dikeluarkan. Kalau tadi suara berat “HO-HO”, kali ini suara cempreng “HI-HI”. Mana sepanjang jalan pada ketawa-ketawa semua.

Sampailah kami di Plasa Soekarno. Saya kira memang di situlah rute penyerahan obor. Sebab, NYMPAHEA berhenti berjalan. Namun, bukannya membentuk lingkaran seperti yang dilakukan oleh TERRA, mereka malah berfoto-foto di depan Plasa Soekarno. Yang cewek-cewek berulang kali minta lagi. Yah…dasar cewek.

Sampailah kami di depan ISF. Di sana, ISF dan NYMPHAEA segera bergabung dan berfoto di dekat Plasa Widya. ISF membentangkan lebar-lebar bendera Malaysia dan Indonesia, dan 1 bendera Kamboja yang ukurannya lebih kecil. Dalam hati saya berpikir ‘ Pasti mereka senang sekali dengan relay kali ini. Jarang-jarang kan mereka berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia…’.

Waktu telah menunjukkan pukul 18.17 saat kami menginjakkan kaki di HIMATIKA. Tak terasa pula sudah akan selesai. Saat kami datang, HIMATIKA memberikan salam pendahuluan. Setelah obor diserahkan kepada mereka, jargon tak henti-hentinya dielukan. ‘HIMATIKA sampai mampus!’ memenuhi mulut seiring derap langkah menuju depan Fisika Teknik.

Sesampainya gerombolan kami di PlaWid, hanya terlihat beberapa mahasiswa HMFT. Maklum. Hanya untuk menerima obor (rute terakhir hari itu lagi!), banyak yang enggan datang. Baru besok-lah HMFT akan ramai. Sebelum menyerahkan obor, HIMATIKA mengucapkan salam kedatangan (apalah istilahnya) dan salam Ganesha kepada HMFT. Untuk ukuran jumlah HIMATIKA (yang saat itu sedikit), salam mereka terdengar gagah dan lantang di tengah remangnya malam. Setelah itu, penyerahan obor segera dilakukan.

Lagipula, waktu maghrib hampir usai. Maka, setelah obor dipegang oleh perwakilan HMFT, saya dan teman-teman Non-Pertandingan segera pulang. Lain halnya dengan panitia (pastinya) acara serta op-close Olim yang diharuskan berkumpul lagi usai melaksanakan shalat maghrib.

Relay Obor #8 (1)

Relay Obor #8 (1)

Rute : TERRA – NYMPHAEA – ISF – HIMATIKA – HMFT

Rabu, 8 Januari 2009, para panitia Olimpiade ITB berkumpul di kantin Bengkok mulai pukul 4 sore untuk melanjutkan acara relay obor yang hingga saat itu telah menginjak hari ke-8. Saya, yang mana termasuk sebagai panitia dalam divisi non-pertandingan dengan sub-divisi Lomba Band, telah datang sejak pukul 4 sore ke kantin Bengkok ITB. Namun, karena di sana baru ada Kak Upi, saya akhirnya kabur dulu. Cuma numpang lewat doing.

Kebetulan sekali, saat melewati perempatan CC, saya melihat sesosok imut di atas selasar CC Barat. Ya. Ia adalah Dudunk a.k.a Kak Aya (Sipil 06), Kadiv.Non-Pertandingan. Spontan saya menyusulnya naik ke selasar CC Barat. Ternyata di sana sudah ada Uwi (TeKim 07) dan Nella (FTI 08) yang juga merupakan anak-anak Non-Pertandingan sedang berkumpul bersama Dudunk, membahas properti yang diperlukan untuk Lomba Kreatif khusus TPB pada awal semester 2 nanti.

Jam tangan saya telah menunjukkan pukul 16.17 ketika saya ikut duduk dalam lingkaran tersebut. Dalam hati saya berkata, ’Bused. Mana gw tahu Non-Pert ada kumpul? Untung aja ketemu di sini. Jadi deh ikutan relay obor’ .

Ya. Hari itu merupakan hari pertama saya mengikuti relay obor. Setelah 7 hari ke belakang jadwal relay obor terbentur jadwal UAS, dan perasaan malas, akhirnya saya, dengan menguatkan hati, bisa juga datang ke acara-pengantar-Opening-Olimpiade ITB ini.

Yak. Langsung saja. Kami, non-pertandingan selesai kumpul hingga pukul 5 sore. Setelahnya kami berempat segera melangkahkan kaki menuju kantin Bengkok untuk selanjutnya berjalan bersama panitia Olim yang lain menuju kubu Terra a.k.a Geofisika yang letaknya memang dekat dengan kantin Bengkok.

Ternyata di sana, Terra telah berkumpul. Namun, hingga pukul 17.20, relay obor belum dimulai juga sebab Terra 2007 belum datang. Kabarnya, masih ada ujian. Tak berapa lama, akhirnya kami, para panitia, melihat gerombolan lelaki-orange datang berbondong-bondong menuju lokasi kami. Ya. Mereka adalah Terra 2007 yang datang dengan jumlah cukup banyak dan (terlihat) kompak.

Maka, sekitar pukul 17.35, Relay Obor #8 pun dimulai.

eps.3 - Tunggu Tanggal Mainnya

eps.3

Tunggu Tanggal Mainnya


Pada episode ketiga ini, cerita yang disuguhkan bukanlah cerita ceria, akan tetapi merupakan sebuah kisah sedih. Salah satu anggota Trio Kaktus, yakni Kadut, sedang mengalami masa-masa kritis. Oleh karena itu, penulis menyebutnya kisah sedih, kisah sedih di hari Minggu…bukan kisah kehilangan, karena belum waktunya kehilangan. Baru masa-masa kritis.

Cerita ini berawal saat sepulangnya sang majikan Swsn dari libur Natal dan Tahun Baru 2009, ia terkaget-kaget_terkaget-kaget_terkaget-kaget (seperti iklan Bank Mega) melihat kondisi ketiga kaktus yang diletakkan di atas rak sepatu di depan kamarnya telah berubah rupa. Kering mengenaskan. Bahkan dua buah daun Tuti telah patah, dan Kadut keadaannya-sudah-tidak-bisa-dijelaskan lagi. Hanya Karang yang masih tegak berdiri, meskipun batang bawahnya juga menunjukkan tanda-tanda kering-tak-terurus.

Hari ini, 8 Januari 2009, kondisi mereka bertiga semakin mengenaskan. Hanya Karang, yang tampak tidak terlalu mengalami banyak perubahan. Duri-durinya masih tegak menempel pada daging kaktus, hanya batang bawahnya saja yang mulai mengalami kerut-kerut. Mungkin Pond’s Age Miracle-nya belum menunjukkan hasil.

Tuti, yang dua buah daunnya telah patah, kini di ujung-ujung tiap daunnya malah berwarna keunguan, seakan-akan busuk. Dan Kadut, bentuknya sudah tak terlihat. Ia mengering layaknya cicak mati kejepit di belakng lemari lalu menjadi bangkai yang didiamkan selama seminggu. Na’as.

Wiwidhe : Yyyah…aduh…gimana dong? Kaktus gw udah na’as banget nih…

Kadut (dalam hati) : Oh Tuhan, terima kasih telah menganugerahiku majikan yang peduli padaku…

Wiwidhe : Yyyah…aduh…gimana dong? Kalau ditanyain sama U-Green kaktusnya ke mana, gw mesti jawab apa? Masa’ ntar gw dikeluarin dari U-Green? Ah elu sih, Dut…pake kering segala!

Kadut (meringis dalam hati, andaikan air mata dapat mengalir dari pucuk dedaunannya) :

Oh Tuhan…aku ralat deh kata-kata tadi. Empunyaku ternyata orang jahat…

Penulis : Setuju, Dut!

Sudah beberapa hari, tiap malam, sebelum sampai pada hari ini, Kadut sudah berdoa khusyuk. Dalam sujudnya di tiap rakaat Tahajud (gile…tumbuhan aja tahajud,bo!), di setiap malam-malam, ia memohon kepada Tuhan.

Bukan permohonan diberi umur panjang. Bukan. Sebab hal itu tidak mungkin terjadi. Kadut memohon agar si empunya dia cepat dapat jodoh atau minimal pacar yang mau sama dia. Meskipun si empunya tidak mampu merawatnya dengan baik, namun, ia masih berterima kasih atas percikan-percikan air yang telah si empunya, Wiwidhe, berikan padanya.

Ya ampun. Betapa mulianya kaktus kita yang satu ini.

Back to the story. Oleh karena itu, bagi siapapun yang membaca tulisan ini, mohon ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun” atas umur Kadut yang DIPASTIKAN tidak akan lama lagi. Serta agar si empunya-nya tetap tabah dan dapat jodoh (termasuk penulis juga mau).

Entah kapan tumbuhan kering itu akan habis dibakar sinar mentari, kemudian menjadi butir-butir debu yang beterbangan dan nantinya mengotori serta menimbulkan bau di depan kamar sang majikan Karang, Swsn.

Entah berapa lama lagi Kadut dapat bertahan.

Hal yang sangat disayangkan. Akankah masih ada Trio Kaktus…?

Tunggu tanggal mainnya!

Pemakaman Kadut…tragedi kehilangan tersedih sepanjang bulan ini. Secepatnya.

Doakan (lhoh…malah nge-do’a-in)?

eps.2 - Kangen Band vs UAS Kalkulus

Kisah nyata ini terjadi sehari sebelum UAS Kalkulus


Kangen Band vs UAS Kalkulus

WARNING: 1. Kisah kali ini merupakan kisah flashback dan cukup panjang. Siapkan mata Anda. Sisakan makanan untuk saya.

2. Dalam kisah kali ini penulis hanya akan menceritakan Trio Empunya Kaktus. Jadi, Trio Kaktus…ga’ eksis dulu ya!


Terkisah pada siang hari di siang bolong, matahari memanaskan siang, menghembuskan radiasi panasnya, mematahkan semangat ketiga kaktus untuk bercengkerama dengan dunia. Mereka bangun kesiangan.

GRUDAK GRUDUK…

“Eh GEMBEL!”

Terdengar suara salah satu si empunya Kadut, Wiwidhe, tengah berusaha sekuat tenaga untuk melangkah melewati tangga kosan lantai 2. Maklum, ukuran tubuhnya tidak memungkinkannya untuk melewati cobaan itu, tidak seperti si empunya kaktus yang lain (Karang) yang katakanlah “LANGSING BAK MODEL”. (Mmuah…I love myself).

“Ucanooo…ambo dataaang…!!”

Wiwidhe datang sembari berteriak. Ia mengulanginya sekali lagi,

“Ucanooo…ambo dataaang…!!”

Dalam hati sang ‘Ucano’ alias CALON TENAR MASA DEPAN Swsn berkata, “OH MAI GAT! MATI AMBO…!!”. Namun, apa daya, status Swsn dalam cerita ini adalah Bawang Merah, sedangkan Wiwidhe adalah Ibu Tiri Cinderella. Jadi, meskipun keduanya merupakan cerita rakyat yang berasal dari daerah yang berbeda, anggaplah sama (pliiss…) di mana IBU memiliki status LEBIH TINGGI dari anak, dalam hal ini adalah Bawang Merah (Bawang Merah kan remaja, bo!). Meskipun dalam realita, Swsn LEBIH TINGGI dari Wiwidhe.

“Iyo. Masuk, Widh…!” Swsn yang baik hati mempersilahkan tamunya masuk ke dalam kamarnya.

“Ucano, Sapi…ayo kita belajar!” ucap Wiwidhe bersemangat.

Malam harinya di kamar Wiwidhe…

Sapi : Can, bosen…

Swsn : Iya. Gw juga.

Wiwidhe : Eh GEMBEL! Padahal baru berapa menit…

Sapi : Ngapain gitu…?

Wiwidhe : Eh GEMBEL! Ayo belajar!

Sapi : Lo ga butek apa, Widh?

Wiwidhe : Butek, sih.

Swsn : Yok kita refreshing !! Semangat gw urusan beginian…!

Trio Empunya Kaktus tersebut mulai memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan sebagai manifestasi dari kata ‘Refreshing’ tersebut.

5 menit berlalu tanpa hasil…

Sapi : Ngapain, men?

Wiwidhe : (bak pahlawan) Ayo kita senam!!

Swsn & Sapi : SETUJU!!!

Ke-Trio Empunya Kaktus mengeluarkan Handphone canggih masing-masing.

Wiwidhe : Sap…lagu lo apaan gitu yang semangat buat senam.

Sapi : Apaan? Lagu-lagu gw kan mellow-mellow gitu.

Swsn : Mellow apa Gellow (baca: gelo) ?

Sapi : Dua-duanya. Hehe…

Wiwidhe : Ya udah…coba HP lo, can. Ada yang seru ga’?

Namun, belum menjawab pertanyaan Wiwidhe, Swsn malah asyik menyanyikan sebuah lagu. Ia terlanjur tenggelam dalam dunianya sendiri.

Kamu di mana

Dengan siapa

Semalam berbuat apa

“Ha Ha Ha..!”

Sapi tertawa sekencang-kencangnya.

“Bused! Temen sekosan gw alay begini!!”

Note : Dalam hati penulis berkata : “SIAL!”

Wiwidhe : Eh lo nyanyi apaan sih Can? Masteng abis lo!

Sapi & Swsn : Ha? Lo ga tau, Widh?

Wiwidhe : Apaan? Siapa yang nyanyi?

Sapi & Swsn : Beneran lo ga tau?

Wiwidhe : Engga….

Dengan wajah merah bak pantat kera, Wiwidhe menganggukkan kepala.

Swsn : KANGEN BAND, Widh!

Wiwidhe : Ha? Yang mana?

Swsn : Yang baru itu…yang video klipnya ada Si Buta dari Gua Hantu.

Wiwidhe : Eh GEMBEL! Boro-boro liat video klipnya…denger lagunya aja blom pernah!

Sapi : Itu lho Widh…yang ada monyet-monyetnya.

Swsn : Eh…di video klipnya yang Doy juga ada monyetnya, tau!

Wiwidhe : Bah…apa lagi tu?

Sapi & Swsn : Ha? Masa sih lo beneran ga tau? Ih…ga gaul lo!

Pelajaran #1 : Jadi, kalau mau GAUL, Harus Tahu KANGEN BAND!

Wiwidhe : Iya. Beneran gw ga tau.

Tak berapa lama dalam diskusi tak berujung tersebut, bak pahlawan di malam hari, Swsn mengeluarkan jurus pamungkasnya dengan segera, dengan dramatis kepahlawanan, dengan penuh dedikasi, dengan segenap…(pikirin sendiri yang baik-baik).

Swsn : GW PUNYA VIDEO-NYA DI MP4!!!

Wiwidhe dan Sapi membisikkan kata seperti “What” namun ucapan mereka terdengar seperti “Gila! Lo GAUL ABBIEZZ, CAN! Lo emang tahu maunya kita-kita. Lo tahu yang kita mau! Lo pahlawan, Can! Lo harus…lo harus…jadi PRESIDEN! Elo…(sekali lagi, pikirkan yang baik-baik).”

Dengan segenap usaha, perawan (diragukankah?) yang satu ini segera keluar melintasi Kadut, menembus Tuti di depan kamar sebelahnya, dan mendaki tingginya tangga menuju lantai 2, arah kamar kosnya, untuk mengambil MP4. Se-cepat Flash, se-cekatan Spiderman, se-menarik Catwoman, dan se-good-good-nya gadis adalah DIA!

Tak berapa lama…

Wiwidhe : Mana Can, Doy-nya?

Swsn : Nih…

Pelajaran #2 : Pembaca harus dapat membayangkan apa yang terjadi apabila seorang gadis yang melontarkan kata-kata seperti berikut ini:

“ANJRITT! Poninya…”

“EH GEMBEL! Favoritnya elo!”

“Alay…

Kayak elo!”

“GILA!”

“ANJRITTT!”

Bocoran dari sang penulis: 1). Bahwasanya Andika “Kangen Band” seharusnya menjadi sang Edward Cullen NANTINYA dalam mimpi Wiwidhe. 2). Bahwasanya dalam realita, Swsn memang “alay” seperti yang dilontarkan oleh kedua teman sekosannya. 3). Bahwasanya cerita ini sebenarnya FAKTA, jadi bagi yang mengenal ke-Trio Empunya Kaktus, inilah realita mahasiswa ITB pada detik-detik menjelang UAS.

-Inilah akhir dari kisah nyata Trio Empunya Kaktus semalam sebelum UAS Kalkulus-



eps.1 - Lamunanmu Menggairahkanku

Kisah ini terjadi pada libur Natal & Tahun Baru 2009

Lamunanmu Menggairahkanku

Terkisah sekitar pukul 14.24, 29 Desember 2008, di hari yang cerah pada salah satu sudut di kota Bandung, tepatnya di atas rak sepatu merah di sebuah rumah kos berlokasi di Jl.Cisitu Lama I no.7 (kebanyakan kata depan di-). Duduk merana 3 buah (atau ekor?) kaktus lucu-imut-nan-kecil bak Shiro, anjing peliharaan Shincan dipepatkan dalam bola sepak berongga setelah disepak oleh Doraemon.
Ketiganya sedang menunggu para sang empunya masing-masing kembali dari liburnya di kampung halaman masing-masing, tepatnya di Bekasi, Tangerang, dan Bekasi lagi. Maklumlah, beberapa hari menjelang tahun baru 2009, mahasiswa sudah sepatutnya bersantai-santai asyik menganggur sebelum dijemput oleh resolusi baru di tahun depan,ralat: UAS.
Namun, tak hanya para empunya yang rajin melaksanakan 3M (Makan, Molor, Melamunkan Jodoh) pada liburan ini, melainkan para peliharaan ini juga telah tertular virus “pembuat-bahagia” tersebut melalui pelet-pati (ralat: tele-pati) dari para empunya. Yak langsung saja, daripada bertele-tele kita lebih baik segera hijrah kepada percakapan mereka.

Kadut : Eh GEMBEL! Geser dikit dong! Gw ga muat tempat! (mulet-mulet)
Tuti : Ah jangan geser-geser dong! Gw udah di ujung pantat ni.
Karang : Heh lo ga punya pantat, bodoh. Pantat lo kan ketanam di tanah!
Tuti : Iya. Maksud gw…pantat vas.
Kadut : Eh GEMBEL…!
Karang : Eh gila!
Tunggu aja sampai empunya gw yang CANTIK-BAIK-IDAMAN LELAKI itu sampai di sini, lo bakal diusir! Ini kan wilayah gw!
Kadut : Eh GEMBEL…kalo gw ga dipindahin ke depan kamar empunya lo ini, ke atas rak sepatu ini, gw bisa-bisa ga dapet sinar matahari. Gw bisa-bisa busuk, kempes, GA LUCU lagi kayak sekarang, Buuu…!
Tuti : Mmm…bentar deh. Emang elo…luc, lucu? Kata siapa?
Kadut : Kata Edward Cullen…(bermanja-manja, namun dalam realita : GAGAL. Kau lebih mirip anak autis, pantaslah kau kusebut ‘GILA’. Tak tanggung-tanggung Kadut memonyongkan mulutnya, berputar-putar mesra)

…zzz…

Karang : Eh gila…! Autis! Lo membuyarkan lamunan gw, tau!
Tuti : Oh…lo lagi ngelamun? Sori-sori. Ngelamunin apa? Cowok ya…? Ehehe…bagi-bagi dong (mimik berusaha menggoda. Saran: Pembaca harus tahu seperti apa sang empunya melakukannya lebih HOT lagi)
Karang : Gila. Dan gw telah ter-ilhami untuk membuat sebuah lagu…ahh…gila, lamunan gw, ga nahan.
Karang pun mulai bernyanyi dengan suaranya yang merdu bagai Celine Dion habis menelan bor listrik.

Kamu terlihat di teras kosanku
Tampilanmu ada di kamar tidurku
Lekuk badanmu terlintas di ruang makanku
Kau ikuti aku ke kamar mandi…

Kamu bersarang di dalam hatiku
Tampilanmu lengket di dalam dompetku
Lekuk badanmu selalu mencuci otakku
Kau ikuti aku ke kamar mandi…

Tuti : Eh sumpah, gila lo. Gw ga nyangka temen gw pikirannya…
Kadut : ck ck ck…
Lo tu emang kayak empunya lo tu, sape? S-W-S-N. Berjiwa cowok. Pikirannya cowok. GEMBEL! Serem ah gw…
Tuti : Iye, Dut. Gw juga.
Coba gw punya kaki, kabur deh gw sekarang!
Kadut : Iya, gw juga.
Ah..saiko (baca : psycho) ah lu!
Karang : Apaan sih? (ekspresi innocent)

Ia melanjutkan bernyanyi…
Kau mau menemaniku melakukan apa saja
Hari ini, esok, dan seterusnya
Kau rela menemaniku melakukan apa saja
Kemarin, dua hari yang lalu, dan kemarin-kemarin seterusnya

Kau menggairahkan hidupku
Pagi, siang, sore, malam, hingga ku bangun kembali
Esoknya
Kau masih menggairahkanku
Kadut : Astaghfirullah…
Na’udzubillah min dzaliq 3x (sembari mengetuk tembok putih yang datar)

Karang masih mendalami lirik lagu buatannya. Dengan iringan gitar akustik, ia pun memberi sentuhan terakhir pada mahakaryanya.
Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud harmoni

OOSSSHH…Salah,salah! Itu lirik lagu PADI!

Wangimu nempel di badanku
Sentuhan lembutmu tertanam di dadaku
Sekali lagi
Kau ikuti aku ke kamar mandi




Oh…REXONA-ku…
Tuti & Kadut : Ossh…osshh..osshh…