Selasa, 06 Januari 2009

Koboi Cilik

Kaki Diinjak, Bocah 4 Tahun Tembak Pengasuh

OHIO, SELASA — Bocah laki-laki berusia empat tahun menembak pengasuhnya, Nathan Beavers (18), karena secara tak sengaja menginjak kakinya di Jackson, Ohio, demikian laporan media setempat.

Saat peristiwa penembakan itu terjadi, Nathan Beavers dan beberapa remaja lain sedang mengasuh beberapa anak kecil di satu rumah mobil, Minggu (4/1).

Polisi menyatakan, bocah laki-laki yang berusia empat tahun tersebut marah karena Beavers secara tak sengaja menginjak kakinya. Beberapa saksi mata mengatakan kepada polisi bahwa anak itu menemukan senjata genggam dari lemari dinding kamar tidur dan menembak Beavers.

Beavers dan seorang remaja lain dirawat di rumah sakit karena menderita luka ringan di pinggang dan lengannya, kata polisi.

Sheriff Jackson County John Shashteen mengatakan, pihak berwenang sedang menyelidiki kasus penembakan tersebut. Bocah laki-laki itu belum dikenakan dakwaan. ant

KOMPAS, 6 Januari 2009

Kejadian 'Koboi Cilik' di Amerika ini bukanlah satu-satunya yang sebenarnya terjadi di belahan dunia lain, dahulu, kini, dan untuk masa depan. Hanya saja baru terekspos kemarin. Kejadian ini sesungguhnya merupakan dasar dari kesalahan mendidik orang tua.

Usia sekitar 4 tahun-an merupakan usia di mana seorang manusia paling dapat meniru dan mengambil makna dari hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Maka, apabila terjadi kasus di mana seorang anak menembak pengasuhnya hanya karena tak kesengajaan menginjak kaki, apakah hal tersebut mencerminkan perilaku keluarganya? Apalagi senjata yang digunakan tidak tanggung-tanggung, senjata api.

Yang membuat miris adalah fakta bahwa anak tersebut memang mengetahui benda apa yang ia tujukan kepada sang pengasuh beserta fungsinya. Tahu dari mana dia kalau bukan dari orang tua?

Surat Untuk Negerimu (2)

Assala mu'alaikum wr.wb.

Kpd.kawan di Indonesia

Ah...senangnya aku dapat mengirimimu surat lagi. Untuk yang kedua kalinya. Kawan, aku akan melanjutkan cerita-cerita indah mengenai negeriku, negeri di atas langit itu.
Dalam suratku yang pertama, ingatkah kau bahwa ku pernah menuliskan mengenai asas negeri kita yang sama? Kalau kau tak ingat, tolong buka lagi isi suratku yang pertama, kawan. Ngomong-ngomong soal kekeluargaan, aku teringat sesuatu.
Ketika aku berkunjung ke negerimu, aku sering melihat banyak spanduk bertebaran. Bendera-bendera berlabel nama-nama partai di sepanjang jalan. Ada juga foto-foto bapak yang wajahnya terobsesi dengan slogan-slogan menjanjikan memenuhi spanduk jumbo-nya. Adakah benar janji-janji tersebut dilaksanakan?
Kalau di negeriku, penguasa kami tidak memerlukan spanduk-spanduk tersebut untuk mengampanyekan diri-Nya. Terlihat atau tak terlihat, Ia satu-satunya Dzat yang kami yakini memang pantas untuk dipilih, di-abdi oleh kami. Janji-janjinya tidak tersebar di pinggir-pinggir jalan dan tembok-tembok perumahan yang merusak pemandangan, akan tetapi tertera jelas dalam Firman-Nya yang bersastra tinggi itu.
Ngomong-ngomong tentang sastra, masihkah di negerimu anak-anak mengucapkan kata-kata dewasa? Kotor dan kasar? Tak berpendidikan? Aku tidak heran sih. Orang tua di sana banyak yang senang memaki anak-anaknya.
Mungkin anak-anak itu meniru ucapan orang tuanya?
Kalau di negeriku, kami berbicara sesuai umur. Sopan, beradab, dan berkualitas. Hal ini membuat kami tidak segan untuk berlama-lama mengajak berbicara orang lain, bahkan yang tidak kami kenal sekalipun. Karena apa yang kami utarakan, semua merupakan hal-hal yang menyenangkan dan bernada menyejukkan. Tanpa intonasi naik-turun dan saling menggertak atau mendenguskan nafas seperti yang biasa remaja-remaja lakukan di negerimu jika orang tuanya sedang berbicara pada mereka.
Ya ampun, kawan.
Aku minta maaf karena hanya sependek ini isi surat yang kukirimkan padamu. Sebab sembari menuliskan surat ini untukmu, kawan, aku teringat kembali untuk bersyukur.
Entah mengapa.
Baiklah. Untuk menutup surat ini, sekali lagi aku meminta maaf karena tidak dapat menuliskan alamat balasan. Kau tahu 'kan, dari suratku yang pertama aku telah menyebutkan bahwa negeriku memang tidak dapat diperlihatkan kepada siapa-siapa yang tidak mau merengkuh syukur dan bersujud memohon ridho-Nya.

Senin, 05 Januari 2009

Surat Untuk Negerimu (1)

Assala mu'alaikum wr.wb.

Kpd. kawanku di Indonesia

Hai teman, bagaimana kabarmu?

Sebelumnya, maaf karena sebelumnya aku tidak menulis tanggal di atas. Hari-hari di negeriku terlewati tanpa harus dipikirkan kembali hari-hari kemarin. Jadi kami tidak memerlukan penamaan tanggal, bulan dan tahun seperti di negerimu. Maaf juga karena baru kali ini aku bisa mengirimu surat, kawan. Aku terpesona dengan negeri baruku yang indah, aman, dan menyenangkan di langit sana, sehingga wajar kalau aku melupakan Indonesia yang begitu memilukan.
Aku sangat senang dengan negeri baruku. Pemimpin kami Maha Adil. Ia, Penguasa Seluruh Alam, begitu kawan-kawan baruku menyebutnya, bukanlah lelaki yang gila tahta dan kuasa, karena mutlak kekuasan-Nya tak terbatas. Ia tidak memiliki keturunan yang suka mengelu-elukan jabatan orang tuanya, yang senang memukuli teman sebaya dan menghabiskan uang orang tuanya. Karena ke-Maha Adil dan Maha Bijaksana-Nya itu, kami, rakyatnya, patuh pada Firman-Nya yang menjanjikan kehidupan bahagia bagi siapa-siapa yang mematuhinya, bukan Undang-Undang yang tanpa pemikiran panjang dibuat sehingga harus berulang kali diprotes oleh rakyatnya, terutama mahasiswa. Seperti yang kudengar di negerimu itu.
Pemimpin kami pun di sini dihargai. Kudengar, pemimpinmu justru sebaliknya. Aku tidak heran. Negerimu 'kan hanya bisa membanggakan diri, menonjolkan kepada dunia bahwa seorang pemimpin baru di negeri adikuasa lain pernah tinggal di situ. Aku heran. Padahal hanya menetap selama beberapa tahun, kenapa negerimu bisa sebangga itu?
Memangnya tidak ada hal lainkah dari negerimu yang lebih membanggakan daripada itu?
Kawan, di negeriku, negeri di atas langit, kami memiliki asas yang sama seperti di negerimu. Kekeluargaan. Tapi berbeda di negerimu yang mana kekeluargaan berarti bebas menarik keluarga untuk ikut bersama dalam jabatan tinggi, seperti apa itu istilahnya di negerimu? KKN? Apalah itu. Di negeriku, kekeluargaan berarti kami semua berkehidupan layaknya sebuah keluarga. Tidak ada yang namanya perbedaan ras, agama, suku, dan status sosial. Semua dianggap sama. Yang membedakan derajat kami adalah ketakwaan kami pada penguasa kami. Yang lebih takwa, dialah yang berderajat tinggi.
Menyinggung soal kekeluargaan tadi, apakah di negerimu masih ada konflik antar ras, agama, dan suku seperti dahulu itu? Yang memakan korban anak-anak dan para wanita tak bersalah? Di negeriku, tidak ada satupun yang seperti itu. Kami hidup berdampingan. tidak ada tawuran, kerusuhan, demo yang mampu merusak kendaraan-kendaraan yang lewat. Jadi, kami tidak memerlukan yang namanya TNI, Brimob, Kopassus, dan berbagai istilah lainya dalam bidang itu. Bahkan polisi lalu lintas pun tidak kami perlukan. Toh tidak ada rakyat yang berusaha melakukan penabrakan motor sebagai bentuk balas dendam.
Karena kami hidup berdampingan, kami juga saling menghormati kepentingan masing-masing. Kami tidak saling berebut harta sehingga di negeri kami tidak ada yang namanya pembunuhan, perampokan, dan penculikan yang mana pelakunya meminta uang tebusan.
Hal lain yang membuat kami tentram, masih banyak lagi. Salah satunya, karena di negeri kami tidak ada yang berselingkuh. Kami di sini diciptakan berpasang-pasangan. Pasangan kami wajahnya rupawan bak bidadari/bidadara terindah yang pernah ada. Jikalau pasangan kami tidak serupawan pasangan lain, kami tetap mencintainya. Karena ia memang diciptakan sebagai jodoh kami. Kami benar-benar mencintai pasangan kami, sehingga tidak ada satupun di negeriku suami beranak 5 yang berselingkuh dengan pembantunya hingga hamil. Yang mana agar tidak diketahui oleh istrinya, ia harus susah-susah me-mutilasi pembantunya itu.
Masihkah hal-hal seperti itu terjadi di negerimu, Indonesia?
Kawan,
sebenarnya masih banyak cerita tentang negeriku. sayangnya, negeri baruku, negeri di atas langit ini, memaksaku untuk kembali mensyukuri keindahannya. Aku tidak bisa mengatakan 'tidak' pada perasaan ini. Sesungguhnya pemimpinku yang menyuruhku melakukan syukur dalam firman-Nya. Maka aku senantiasa bersyukur. Juga untuk saat ini.
Akan tetapi, entah mengapa saat menulis surat ini untukmu, kawan, berkali-kali aku mengucap syukur dalam hati.
Jika berusaha mengingat-ingat keadaan dahulu sewaktu aku singgah ke Indonesia, syukurku semakin khusyuk.
Entah mengapa, kawan.

Kiranya sekian saja surat kali ini kutuliskan untukmu. Aku akan segera mengirimimu cerita-cerita indah yang lain dari negeriku. Sesungguhnya aku ingin kembali singgah ke Tanah Air Indonesia-mu, namun, apa daya, negeriku di sini jauh lebih indah dari negerimu. Itupun jika negerimu bisa dibilang indah.
Satu hal lagi permohonan maafku. Aku minta maaf karena engkau tidak dapat membalas suratku ini. Biar aku saja yang mengirimimu surat.
Sebab, aku tidak boleh membertitahukan alamat negeriku padamu, karena negeriku tertutup bagi orang yang enggan bersujud memohon ridho-Nya.

Belahan Jiwa Yang Sesungguhnya

-jika kamu membaca tulisan ini, aku mohon, gantilah kata ‘aku’ dari sudut pandang sang penulis menjadi ‘aku’ dari sudut pandang kamu sendiri-

Belahan Jiwa Yang Sesungguhnya


“Tiada yang paling membahagiakan selain anak-anak tahu bahwa kami sangat mencintai belahan jiwa kami.”


Kalimat tersebut adalah kutipan sebuah pesan singkat yang kuterima pukul 18.55 pada tanggal 3 Januari 2009 dari Ibuku. Sebuah pernyataan kejujuran yang mampu melunakkan kerasnya hati dan pemikiran seorang anak.

Dua puluh tiga Desember 2008, hari di mana aku terenyuh untuk memohon maaf atas segala tindakan menentang yang kulakukan terhadap orang tuaku, sekaligus menunjukkan bahwa aku ebenarnya menyayangi mereka, meskipun tindakan keseharianku sangat tidak mencerminkan hal tersebut. Tiba-tiba pikiran itu terlintas saja. Namun, begitu kuat sehingga aku segera tergerak untuk benar-benar mewujudkannya. Lantas ku bertanya, apa yang dapat mewakili kata-kata ‘aku sayang kalian’ tersebut?

Merupakan suatu hal yang kebetulan karena akhir-akhir itu aku sedang ‘tergerak’ untuk mengoptimalkan daya baca-ku. Oleh karenanya, aku memutuskan untuk memberi mereka masing-masing sebuah buku. Aku pun pergi ke tempat penjualan buku. Yang terdekat ialah di Gelap Nyawang. Maka, kulangkahkan kakiku ke sana.

Dalam perjalanan, begitu kuatnya perasaan ini kurasakan. Entah mengapa hasrat untuk segera memberikan buku ini sangat kental hingga memenuhi pemikiranku juga. Aku tahu. Bagi masyarakat umum, buku bukanlah sesuatu mahal yang sangat diidam-idamkan. Namun, aku tahu pasti sesuatu benda yang satu ini mampu mengekspresikan perasaan yang ingin kunyatakan ini. Setidaknya kedua orang tuaku tahu bahwa aku menyayangi mereka.

Bagaimana tidak?

Dalam keseharian, mulutku lebih sering menekuk dibandingkan melengkung ceria di hadapan mereka.

Wajahku lebih sering kupalingkan dibandingkan menatap lekat-patuh saat mereka memberi nasehat yang padahal ku tak tahu, apapun itu, akan selalu ada manfaatnya.

Telingaku seolah-olah kututup, pura-pura tak mendengar ketika mereka mengutarakan pendapat dan menceritakan kisah hidup mereka. Bukannya menampakkan ekspresi tertarik saat tiap kata yang terlontar dari mulut mereka mewakili selenting kisah berharga yang belum tentu aku tak mau mengalaminya.

Ragaku lebih sering dan senang berada dalam suatu ruangan tertutup berukuran 3x4 meter yang dipenuhi barang-barang pribadiku, dibandingkan berada bersama mereka menikmati saat-saat kebersamaan walaupun hanya 15 menit.

Sering pula kudenguskan nafas jengkel melihat hasil masakannya yang tidak sesuai dengan ‘mood-ingin-memakan-apa’ dari pikiranku. Tanpa menyentuh masakan-masakan tersebut, berharap ia membuat masakan lain yang sesuai dengan keinginanku.

Begitu banyaknya tindakan menentang yang kulakukan selama ini. Terutama setelah lingkungan di luar rumah lebih dominan kujalani, mereka berdua seakan semakin menjauh. Maksudku, aku semakin menjauhkan diri dari mereka.

Bukan tidak sengaja, akan tetapi aku merasa pada awalnya, rumah yang kutinggali bukanlah rumahku yang sesungguhnya.

Orang tua bukanlah orang-orang pertama yang harus kumintai pendapat saat aku kebingungan bagaimana memecahkan masalah. Aku malah menghindar dari mereka yang, padahal, pasti mau membantuku sepenuh hati. Aku malah lari kepada teman-temanku, yang bahkan belum satu kalimat awal keluhanku, secara ikhlas mau mereka dengarkan.

Bukannya mengikhlaskan tangan membantu mereka melakukan pekerjaannya, yang kukira pasti mereka akan senang setengah mati meskipun justru aku malah akan memperlambat kerjanya. Aku malah mengurung diri di kamar, memutar-mutar frekuensi radio dengan volume sekeras-kerasnya, agar dimaklumi tak mendengar jika mereka memanggil.

Begitu banyaknya tindakanku yang tidak mencerminkan bahwa aku ini adalah seorang anak yang baik. Setelah merasa lebih nyaman dengan lingkungan di luar rumah, maka sepenuhnya kutinggalkan lingkungan itu. Rumah. Keluarga, orang tua.

Tak ingatkah aku bahwa ibuku berjuang mati-matian melindungiku dalam perutnya selama 7 bulan. Meskipun bukan 9 bulan seperti umumnya. Dengan beban bukan secara fisik saja, tapi juga secara batin berharap bahwa ia dapat melakukan yang terbaik dalam merawatku. Perasaan was-was dan kekhawatiran yang besar apabila ia gagal menjaga titipan dari Tuhannya.

Tak ingatkah aku bahwa ayahku merelakan kakinya mondar-mandir mencari uang demi memperjuangkan agar aku dapat dilahirkan di rumah sakit yang baik. Agar aku dapat selamat.

Tak ingatkah aku bahwa ayahku pula adalah orang yang paling sering menangis dalam sujudnya. Merengkuh memasrahkan diri atas segala usahanya. Berharap agar aku dapat benar-benar dilahirkan di dunia.

Ia ingin bertemu denganku.

Tak ingatkah aku bahwa perjuangan ibuku saat melahirkanku adalah perjuangan dalam hidupnya yang paling keras dan mematikan. Hidup - matiku dan dirinya ia pertaruhkan. Mengapa ia harus susah-susah berusaha mengeluarkanku dari perutnya?

Ia ingin bertemu denganku.

Namun. Sekarang. Aku telah jauh dari mereka. Tak hanya secara fisik, akan tetapi juga secara batin.

Aku masih ingat. Tak berapa lama kemarin, ketika ibuku menelepon, ia kunomorduakan dibandingkan obrolan kurang penting dengan teman-temanku. Bukannya sengaja, akan tetapi aku malas menjawabnya.

Padahal ia rindu mendengar suaraku meski hanya sepatah kalimat. Tidak rindukah aku?

Liburan kemarin, ayahku bertanya-tanya ketika mendengar bahwa aku ingin pulang secepatnya. Ia tidak menanyakan padaku secara langsung, akan tetapi dapat kubaca dari wajahnya ia ingin mendapatkan dengan jelas jawaban masuk akal dariku.

Padahal ia rindu bertemu denganku meski hanya beberapa jam. Tidak rindukah aku?

Apa aku tidak sadar bahwa sisa waktu yang kujalani bersama mereka, ku tak tahu, apakah masih akan lama lagi? Jikalau mereka ‘dipanggil’ besok, apakah aku akan siap? Tuhan…

Maka, ketika telah mereka dapati buku untuk mereka dari sang anak tergeletak diam di atas lemari di kamar, tak pelak lagi yang mereka lakukan adalah segera mengirimiku pesan singkat tersebut. Meskipun aku telah berlaku tidak peduli terhadap apa-apa tentang mereka. Lebih benyak tidak peduli daripada secercah kepedulian yang kuberikan. Mereka masih menganggap aku sebagai belahan jiwa mereka.

Sesungguhnya aku merasa tidak pantas menyandang status itu di mata mereka. Belahan jiwa. Ya. Belahan jiwa yang sesungguhnya, bukan belahan jiwa yang dibuat-buat ketika aku menemukan sesosok lawan jenis yang sanagt kukagumi. Bukan belahan jiwa yang kubuat-buat saat seorang teman mampu menyita waktuku lebih banyak bersamanya karena perasaan nyaman berada di dekatnya.

Belahan jiwa yang sesungguhnya.

Tapi…apakah aku juga menganggap mereka sebagai status yang sama?

Bahkan butir-butir air mata yang mengalir di pipi saat kutulis pesan ini masih tak menyadarkanku …

Sudahkah aku menganggap mereka sebagai belahan jiwaku?

Sabtu, 03 Januari 2009

Penguasa Masa Depan

Penguasa Masa Depan

"Di masa depan, orang yang berkuasa adalah orang dominan otak kanannya"

Kalimat tersebut dilontarkan oleh Kak Iqbal, salah satu alumnus MAN Insan Cendekia Serpong yang sekarang sedang melanjutkan studi di ITB jurusan Teknik Informatika, dalam sebuah workshop yang merupakan salah satu bagian dari rangkaian PCM (Pekan Cendekia Muda) di ITB.
Kalimat itulah yang kemudian memotivasi seorang gadis 18 tahun di sela kebimbangannya dalam menjalani masa pembelajaran di kampusnya, ITB. Saat nilai-nilai mata kuliah yang diumumkan membuat 'makan ati', kalimat inilah yang mampu merasuki jiwa yang kosong untuk diisi kembali menjadi sosok yang bersemangat dan termotivasi.
Pelajaran, mata kuliah, dan nilai memang sesungguhnya bukanlah menjadi hal pertama yang dicari oleh sang gadis setelah ia memutuskan untuk menjejakkan kaki di kampus terbaik di Jalan Ganesha tersebut. Akan tetapi, jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia pikirkan , "Untuk apa saya dilahirkan ke dunia?"
Namun, dalam proses mencari jawaban tersebut, sang gadis seolah menutup mata. Ia terpaku pada ritme pembelajaran yang dipertontonkan oleh teman-temannya. Tak henti-hentinya mereka menyerukan 'IP 3';'Saya gak mau masuk jurusan sini! Mending ngulang SNMPTN tahun depan.' dan berbagai seruan lain yang kesemuanya menyangkut nilai, nilai, dan nilai.
Untunglah di saat kejenuhan akan obsesi, sang gadis seakan diingatkan oleh Tuhan-Nya agar ia mau membuka mata terhadap masa depan.
Masa depan yang cerah, inovatif, dan bebas. Bukan masa depan yang dibelenggu oleh meja-meja perkantoran, yang untuk mendudukinya memerlukan IP>3.
Sang gadis juga telah diingatkan, bahwa apa yang ia miliki dan apa yang ia inginkan adalah hal yang lebih penting bagi dirinya. Bukan apa yang dimiliki dan diinginkan oleh orang lain. Setiap manusia memiliki tujuan sendiri-sendiri, dan tidak sepatutnya-lah manusia itu bercermin pada orang lain, akan tetapi melihat sosok dirinya-lah yang lebih penting.
Sang gadis seakan ditegur oleh Yang Di Atas. Ya. Ia punya kekuatan lain yang tidak semua orang punya. Sense of Art, serta ketertarikan yang besar terhadapnya. Inilah dia sesuatu yang kemudian ia yakini dapat membantunya di masa depan. Desain dan musik.
Ia sangat menyukai desain dan ia tertarik mendalami musik. Dua hal yang tak semua manusia punya atau bisa dimiliki. Meskipun sang gadis tidak tahu darimana '(walaupun) sedikit bakat' itu ada. Karena dalam keturunan keluarganya, belum ada satupun anggota yang menonjol dalam bidang ini.
Maka, jadikanlah hal ini sebagai kekuatan baginya. Modal untuknya di masa depan. Bakat dan minat sudah mampu dipegangnya. Hanya perlu usaha dan waktu yang akan membawanya mengalir menuju persaingan di masa depan.
Kekreatifan akan lebih menonjol di masa depan. Kekuasaan bukan mutlak bagi ia yang melaknat teori Newton. Satu hal yang diyakininya.

Jumat, 02 Januari 2009

Saat Ke'Tanggung'an Melanda

Saat Ke'Tanggung'an Melanda

Siang ini merupakan siang yang lebih cerah bagi seorang gadis. Sekembalinya ke Bandung, dengan sigapnya ia melangkahkan kaki menuju kampus barunya (terhitung sejak bulan Juli 2008, barukah?) untuk melihat hasil Nilai Akhir Kimia. Hal tersebut merupakan was-was yang harus segera dihilangkannya, meskipun selama menjalani liburan, ia tidak pernah sekalipun memikirkan hal-hal yang berbau 'pelajaran', kecuali menyeleaikan esai untuk Tugas Akhir B.Inggris.
Beberapa langkah menuju Departemen Kimia, nampak beberapa anak manusia yang berlalu-lalang di kawasan sana. Tak salah lagi, mereka adalah teman-teman sekelas sang gadis Swsn, yang sedang mengamati nilai. Akan tetapi, lebih banyak lagi sebenarnya, mahasiswa TPB (Tahap Pembelajaran Bersama or Tahap Pusing Bersama?) yang mondar-mandir di sana. Sang gadis meruak di antara kerumunan teman-temannya.

AB

Itulah Nilai Akhir Kimia baginya. Hal yang paling ditakutkannya ternyata benar telah terjadi. Inilah yag selama ini paling meresahkannya. Nilai di antara A dan B, yakni AB alias Nilai Tanggung.
Untuk informasi, siapapun yang mendapat nilai selain A, diperbolehkan untuk mengikuti UAS. Namun, nilai AB sesungguhnya akan lebih me'miris'kan orang yang mendapatkannya. Hal inilah yang dirasakan oleh sang gadis.
Sang gadis telah berusaha untuk mendapatkan nilai maksimal, yaitu A. Namun, ternyata hasil yang ia dapat justru lebih menakutkan. AB. Mengapa? Karena dengan adanya nilai ini justru menimbulkan sifat MALAS untuk meraih nilai yang lebih tinggi. Nilai B masih akan mendorong niat seseorang untuk memperbaikinya, mengubahnya menjadi A. Lain halnya dengan nilai AB. Yang ada justru perasaan gundah gulana, apakah akan mengikuti UAS atau tidak. Sungguh malas.
Usai menyaksikan dengan mata kepala sendiri nilai tanggungnya, sang gadis melangkahkan kaki untuk pulang ke kos. Namun, ia teringat untuk mengirimkan desain cover Tugas Akhir B.Inggris kepada teman-teman sekelasnya. Kewajiban tak baik ditunda-tunda, akhirnya ia memutuskan untuk singgah ke warnet. Mengirimkan desain cover kepada teman-temannya sekaligus menceritakan kebingungannya untuk mengurangi perasaan bimbang yang sedang melandanya dalam tulisan ini.

The Existence of Sex Savety Utensil's Provider in Indonesia

This is my essay for Final Assignment of Academic Writing
FTSL 08

The Existence of Sex Savety Utensil’s Provider in Indonesia


The use of condom’s problem much called as psychological problem. Men, in general, won’t use condom by reason it makes uncomfortable. Beside that, they won’t use condom when they are having sex because they are too shy to buy condom in the apotec, medical store, and minimarket. Yet, many people knows that couple who had sex without wear condom actually risky affected to happened HIV/AIDS virus. Because of that, to prevent HIV/AIDS in order to not become spread out, government and some Non-Governmental Organization (NGO), which care about HIV/AIDS problem continually campaign the use of condom. High rate of HIV/AIDS suspect in Indonesia, makes our government think hard to find a new breakthrough which could encourage the use of condom in Indonesia. Indonesia government has realizationed this campaign since 2005. Our government has released a breakthrough relate to this problem. ‘ATM Condom’, was the name of it. In the matter of fact, there are 125 ATM Condom has been realizationed since December 2005 ago, at the same time as a step of socialization. Now, the existence has runned for 4 years. These ATM Condom have been spread in some of the city and has been provided by private side which, off course, coordinate with government institution that handle this problem, Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). ATM Condom’s existence where notabene as a feature of providing condom freely, actually simplify public in order not to become lazy again to buy condom to be used, so that unsavety sex behavior can be prevented besides, it can push down the high fertility rate in Indonesia. But, this problem also means that free sex has been legalizationed. Moreover, wheter there is or not, ATM Condom does not vouch the risk of infection HIV/AIDS virus for public in Indonesia will be less, actually it is all depend on public personality.

Form of ATM Condom machine, indeed, not as popular as general ATM which has been used by bank owner in Indonesia. ATM Condom is much more similar to electric guardhouse sized 1 x 0,5 metres. This ATM has white as the background and had been built by matter from zinc. The spots are spread in some of city in Indonesia, even 7 units has been provided in some spots in Jakarta. General facility which not else is this ATM Condom will simplify public to get the savety utensil in doing sexual intercourse based on needs and right exactly at the time when it is needed. This general feature is the right way to solve embarassed feeling of men if they should buy condom in the apotec, medical store, and minimarket. By ATM Condom, the privacy will be kept because they only have to put 3 metallic coins of Rp 500,00 into this machine to get a pack of condom, filled by 3 condoms. The application to use this machine is easy and so general. Because the way is really simple, so consumens should be encouraged to use this facilitiy. If it happens, this problem solving will be one of the ways to lessen unsavety sex behavior.

Besides, ATM Condom is needed to suppress population growth. What has to be known, is at the basic, the use of condom is able to suppress population growth. Why? By using condom, potency of pregnancy can be lessen along the condom does not leak. The use of condom correctly makes sperma of man cannot come into woman’s vagina. By correct usage, a couple of human who did sexual intercourse can lighten the potency of pregnancy. If pregnancy can be lighten, so that fertility rate in Indonesia can be lighten too. Government hopes population growth can be pushed down, therefore ATM Condom is needed as the feature to provide condom.

In the other hand, ATM Condom generally emerging opinions, what government do has the same meaning by free sex legalization. People knows that free sex is exactly doesn’t fit with norma and east culture as they say still should have been wiped out. Free sex which should be banned instead of permitted by ATM Condom. Seeing that how easy the access to get condom, not seldom and has not been doubted, this facility will being benefitted by unmarried couple. So that, by ATM Condom, will lure them to do free sex. Especially for teenagers, who is the most susceptible to do free sex as unmarried couple. It could be happen, because ATM Condom, as if motivate public to do free sex with no anxious to be pregnant or happened risky affected of sex desease and HIV/AIDS virus. This thing lead to opinion, is Indonesia government really wants to push down high speed of dissemination of HIV/AIDS virus or even fertiling prostitution.

Actually, this breakthrough, ATM Condom, is not a new one in internasional world. Some of big countries, especially in Europe and America, the government has provided this feature since a few years ago. In Indonesia, survey about dissemination of HIV/AIDS virus has been held by our government in 2002, then data shows that 3 millions of men in 10 provinces in Indonesia has become consumer of prostitute. Only a few of them who has used condom when they did sexual intercourse with worker of prostitute. Must be written, this number does not represent the real condition, because survey only covering people who were relative to be rated, such as truck driver, labour, and other weak society of economics. It was becaused the institution which has the duty about this, find difficulties to do survey for people such as employees, politicians, officer, or businessman. Seeing how high the risk of dissemination number of HIV/AIDS virus which caused from disusage of condom, it is natural if our government try to find some ways to solve the problem. Our government then, do many ways to push down dissemination number. One of them is by build ATM Condom. Because of that, it is clear if our government not only follow trend of the world about ATM Condom, but surely in order to handle problem inside their own country. But, the ways which government has done, actually won’t happen as the plan goes on without realization of public itself. Popularity of free sex that happen in various society of public Indonesia nowadays, is not caused by easy-or-not to get condom, but it is more caused by each human personality and how they behave in their lifetime. Lifestyle, behavior, and another enviromental factor such as friends will give more affect for human to do free sex. Because of that, ATM Condom’s existence does not absolute vouch that free sex will be less and it does not also vouch the dissemination of HIV/AIDS virus could be prevented.

After many years of ATM Condom existence, comes many questions. By condom existence, will it vouch that people won’t go to prostitution? How people will buy condom if they haven’t conscious yet about threatening danger? And if the problem is about low consciousness to use condom, so what is the solution by provide ATM Condom? It is need to insulted that in Indonesia, in the matter of fact, conscioussness of condom usage is still minim. What should we do right now is by grow some human patience about how important condom usage for public who susceptible alternate between couple. It is caused, more public has not know yet clearly about advantages of the condom usage itself. Public have limitation of knowledge about condom. They only know that condom could lessen sexual enjoyment. This tought has to be finished by giving access of information, workshops, and some discusses. Those things that needed to be done before government provide ATM Condom. If the information or sosialization relate to advantages of condom has not been done, so that supplying of ATM Condom will be useless. If there are ATM Condom, is it a certainty that public who use condom will increase? In fact, Indonesia different with another European and Americans which the public has got well knowledge and understand how important of condom usage, so that ATM Condom existence indeed give many advantages for people there. Beside that, another way that could be done is to do identification of men citizen who often having sex with prostitute and then do changing of educational sexual behavior or giving important knowledge of condom usage to prevent unsavety sex behavior, and also lighten the risk of HIV/AIDS’s dissemination. This solution also applied for unmarried couple who doesn’t use condom yet when they have sexual intercourse. But actually, upon it all, the best solution from this problem is by avoid sexual intercourse or free sex, which people know it is a forbidden behavior seeing from every human perspective. Especially, for people who still have potential of alternate between couple, either men who often go to prostitute and unmarried couple. While ATM Condom, it should become the last way to solve the problem after all of hard work of our government do in many ways cannot be applied anymore.

Four years has been missed since ATM Condom existence begin to be applied by our government. Altough the existence is still being questioned. Pro and contra were then come up. If people want to muse, actually the existence is able to bring many advantages for public in Indonesia. In the process, really our government not by short-term thinking to release ATM Condom in Indonesia, and not only imitate other countries all over the world that has cultivate these feature. Pros and cons has been considered by the government, is it will touch the target, which is to prevent dissemination of HIV/AIDS virus can be reached or not. Moreover, ATM Condom as the condom provider, can suppress population growth. Formulate, the existence shouldn’t be questioned anymore. ATM Condom actually could simplify public to get condom without hesitate like when they have to buy condom in the apotec, medical store, or minimarket. With the high usage of condom, our country hope either that dissemination of HIV/AIDS virus can be less and population growth in Indonesia can be pushed down. Neverthless, it cannot be denied that the existence of ATM Condom has the same meaning by free sex legalization. Anyhow, supplying of this feature does not vouch public will use condom in their sexual intercourse, because it is actually depend on personality and emotion by people themselves.