So I should thank God! for this ability which U has given.
Jumat, 02 Januari 2009
Cover of My Final Assignments of Academic Writing FTSL 08
So I should thank God! for this ability which U has given.
Kamis, 01 Januari 2009
Realita Cinta dan "Rok then Roll"

Bagi seorang lelaki, nyatain cinta zaman sekarang, susah susah gampang. Tapi, “mewujudkan cinta”-nya (kalo lo translate-in ke bahasa inggris, bakal lebih mudah dipahami : make love), gampang gampang susah. Nah lo…apa bedanya?
‘Susah susah gampang’ itu bertingkat-tingkat lebih susah daripada ‘gampang gampang susah’.
Untuk mendapatkan cinta seorang cewe, perlu kesabaran dan pengorbanan sangat getol. Tapi, untuk mendapatkan ke-perawan-an seorang cewe, perlu duit sangat banyak. Tapi, menurut lo…100 ribu ‘sangat banyak’ ga dibandingin harga diri?
Bagi seorang perempuan, menemukan cinta itu juga susah susah gampang. Berharap dapat cowok yang ini-lah, itu-lah, walaupun pada akhirnya, bakal dapat cowok yang ga-ini-lah, ga-itu-lah.
Makhluk yang satu ini, kebutuhannya justru berkebalikan sama cowok. Kalau cowok perlu kesabaran dan pengorbanan sangat getol, cewek justru perlu duitnya. Buat apa? Buat perawatan tubuh biar menarik perhatian cowok dan buat dihabiskan di mall (makan sebanyak-banyaknya or shopping segila-gilanya) kalau lagi frustasi gara-gara cowok yang ditaksir ga meleng-meleng melulu.
Kalo urusan “mewujudkan cinta”-nya sama aja kayak cowok. Gampang-gampang susah. Kalau yang cowok perlu duit sangat banyak, justru cewek hanya bermodalkan rok, udah, jadi!
Di hadapan cowok, untuk “mewujudkan cinta”, seorang cewek tinggal pake rok, then roll (up).
Parcel Zaman Sekarang
Ada Pelangi Di Rumahku
Mereka Bertanya...
u/ rakyat Palestina
Mereka Bertanya...
Mereka bertanya…
Di manakah lagi kami harus tinggal?
Kami menjawab
Tanyakan pada puing-puing atap rumahmu yang berserakan di tanah kelahiran
Mereka bertanya…
Ke manakah lagi harus kami melangkah?
Kami menjawab
Tanyakan pada aspal yang berlubang tak berbentuk oleh rudal-rudal di angkasa
Mereka bertanya…
Apa lagi yang dapat kami makan?
Kami menjawab
Tanyakan pada ilalang yang bergoyang tak menentu atas bergetarnya tanah konflik
Mereka bertanya…
Siapakah yang dapat kami mintai pertolongan?
Kami menjawab
Tanyakan pada mayat-mayat yang bergelimpangan di sisimu
Mereka bertanya…
Bagaimana nasib anak-anak kami?
Kami menjawab
Tanyakan pada seseorang yang sedang meringkuk, menangisi jasad ayahnya di pojok sana
Mereka bertanya…
Sekarang, apa yang dapat kami lakukan?
Kami menjawab
Tanyakan pada kelamnya langit oleh asap-asap rudal di atas sana
Mereka bertanya
Bisakah kalian melakukan sesuatu untuk kami?
Kami tidak menjawab
-semoga kita bukanlah ‘kami’-
Mau Melantik kok Tumbang?
Keputusan ini menimbulkan banyak pertanyaan sekaligus keraguan. Saat proses penetapannya pun, sebenarnya telah terjadi ketidakberesan. Awalnya, fraksi-fraksi di DPR menyetujui bahwa 65 tahun merupakan batas yang tepat untuk pensiun. Namun, di akhir-akhir, seluruh fraksi berubah haluan, justru mendukung keputusan perpanjangan usia menjadi 70 tahun. Kecuali fraksi PDI-P, yang konsisten dengan pendapatnya.
“Layakkah perpanjangan umur hingga 70 tahun tersebut bagi kinerja Mahkamah Agung?”. Banyak yang menyangsikan (termasuk saya). Dalam agama Islam, salah satu syarat menjadi seorang hakim adalah sehat jasmani. Hal inilah yang sebenarnya meragukan saya apakah mereka para ‘penjelang 70’ masih dapat melaksanakan kinerjanya dengan baik?
Pasalnya, kesehatan-lah yang juga menjadi perhatian masyarakat jika kita mengaitkan usia 70 tahun ini dengan kinerja para hakim. Dan tak berapa lama setelah adanya undang-undang MA tersebut, terjadi suatu peristiwa yang semakin meragukan publik akan ke-efektifan undang-undang ini.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Desember 2008 lalu di Gedung Mahkamah Agung, DKI Jakarta. Pada hari itu, enam orang hakim agung akan dilantik oleh Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non-Yudisial, Pak Harifin A. Tumpa. Berdasarkan informasi yang didapat dari surat kabar KOMPAS (31/12/08), disebutkan bahwa beliau tiba-tiba terjatuh lemas saat berjalan menuju keenam hakim agung yang akan beliau lantik.
Melihat sosok pelantik di hadapannya jatuh, spontan keenam hakim agung segera berhamburan berusaha menolong Pak Harifin. Mereka mendudukkan beliau di kursi dan menunggu beberapa menit agar pelantikan dapat dilanjutkan (untungnya pelantikan masih dapat dilanjutkan).
Pak Harifin A. Tumpa adalah seorang yang harus bersyukur atas adanya undang-undang baru ini. Pasalnya, beliau diuntungkan dengan perpanjangan usia menjadi 70 tahun, karena beliau termasuk dalam salah satu dari sebelas hakim yang seharusnya telah menyandang status “Jebolan Mahkamah Agung”.
Saat ditanya apakah beliau sedang kurang sehat, beliau menjawab bahwa ia hanya kram di kaki kiri. Itu bisa terjadi pada siapa saja, bahkan yang muda-muda, kata beliau.
Sebenarnya, apakah pernyataan tersebut hanya merupakan suatu pembelaan dari Pak Harifin terhadap isu yang menyangkutpautkan ke’tumbang’annya dengan undang-undang MA baru?
Lha gimana to, Pak?
Belum melantik kok sudah tumbang…
Sedikit sedikit jatuh
Sedikit-sedikit jatuh
Jatuh kok…sedikit-sedikit?
Baru Semalam
">
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan…”
(QS. An-Nasr:1)
Mentari menampakkan diri dalam relung kesedihan melewatkan malam berbintang ruam. Angin yang setengah-setengah berhembus seolah terengkuh dalam relungan.
Beberapa jam setelah pergantian tahun. Terhitung baru semalam, kembang api terbesar di seluruh belahan dunia dinyalakan, meruak indahnya gelap langit di malam hari. Terhitung baru semalam, terompet di tiap-tiap rumah dibunyikan. Meriah. Memecah mengalahkan hingar bingar perdagangan di siang hari. Terhitung baru semalam, tanah bergetar mengikuti derap langkah ke sana-kemari penyanyi seiring harmoni lagu yang dibawakan. Lalu diikuti oleh hentakan beribu bahkan berjuta jiwa yang menyaksikan di hadapannya. Sesak memenuhi lapangan. Terhitung baru semalam seruan dan tawa dilontarkan. Kuat, keras, dan berkelanjutan, saling tak mau kalah antara yang satu dengan yang lain.
Itulah saat-saat pada malam pergantian tahun baru. Bergantinya angka Masehi yang tak terasa telah menyentuh bilangan sebesar 2009. Itulah ritual sambutan paling meriah sepanjang tahun kemarin. Penyambutan tahun baru.
Namun, hari ini hari keenam saudara-saudaraku di Palestina menangis lebih keras dari hari-hari kemarin. Merasakan semakin beratnya hidup yang harus dijalani. Tanpa rajukan berarti. Hambatan demi meraih kedamaian berkehidupan yang bertambah besar dalam pandangan mereka.
Telah lebih dari 400 jiwa dari sanak keluarga harus mereka relakan demi bertahan hidup dalam lima hari ini. Dan mereka masih terus berjuang. Jiwa-jiwa yang telah syahid, tak perlu berlama-lama mereka renungkan, karena pada keyakinan mereka, dalam beberapa jam, menit, atau bahkan detik selanjutnya, mereka akan menyusul saudara-saudaranya yang telah merasakan ketenangan.
Syahid di jalan-Nya dan kebebasan dalam berkehidupan. Hanya itu alasan mereka untuk mengerahkan seluruh jiwa dan raga demi senjata perang musuh yang tak henti-hentinya merenggut nyawa kakak, adik, bahkan yang terkasihi sekalipun. Demi tegaknya agama, mereka harus rela melangkah dengan iringan bom di kanan, gertakan di kiri, bahkan rudal yang sedang menuju padanya dari arah depan.
Sesungguhnya saudara-saudaraku adalah bangsa yang kuat tangguh, dan tak terkalahkan. Tak mungkin dipungkiri. Makanan mereka adalah sejuknya air wudlu. Nafas mereka adalah tenangnya dzikir. Namun, sayangnya, tidur mereka adalah kesigapan terhadap roket-roket yang telah menunggu dilontarkan.
Bukan di siang hari, tidak pula di malam hari. Namun, sepanjang hari semangat berjihad mereka selalu ada. Mereka tidak menyerah, tidak pula putus asa, kawan. Justru semakin banyak rudal yang harus mereka terima, semakin kuat tekad mereka untuk menang. Agar dapat dibuktikannya pada dunia, “Inilah kami, bangsa yang menang atas pertolongan Tuhan-nya.”




