Minggu, 07 Juni 2009

Puitis atau Gombal-kah Saya?

Lagi iseng. Kepikiran ‘aja bikin beginian. Siapa tahu ada yang mau membayar hak cipta sajak saya.


Apa yang terjadi saat dua insan dirundung akan cinta? Mungkin sajak dadakan buatan saya ini yang paling tepat.


Pertemuan pada pandangan pertama:

Lewat hati dan hati, pancaran sinar dari wajah memancarkan keteduhan.

Lewat hati dan hati, kegelisahan pikiran menyiratkan kebenaran akan cinta.


Saat meluncurkan manuver penembakan:

Aku memintamu meletakkan teratai di atas pusara cintaku, dengan begitu kau akan menjadi fajar bagi malam-malamku yang dingin, menyuguhkan kehangatan, dan menjadi pembawa suasana bagi dasar telagaku yang hening.


Setelah menjalin ikatan:

Berucap “aku” dan “kamu” dalam temaram kerinduan sepasang kekasih. Sesungguhnya tidak perlu. Karena tak ada perbedaan dalam “aku” dan “kamu”. Tersamarkan seolah satu.


Ketika bosan, perlu meng-upgrade hubungan:

Di bawah gemerlap bintang, meramu tetumbuhan kesetiaan dan kaldu pengertian. Mengaduknya agar semerbak keindahan mewangi, menjejak dalam keabadian kasih sayang.

Jumat, 05 Juni 2009

Retorika Pemulaian

Setiap manusia berhak mendapatkan kehidupan yang baik. Namun, jalan untuk meraihnya merupakan kewajiban personal. Orientasi akan kehidupan yang baik. Kehidupan di masa depan. Sedetik, sejam, setahun, dan sampai waktu berlalu setelah aku menghembuskan nafas sekarang.

Aku, salah satu manusia, saat ini sedang mengalami penyadaran. Penyadaran akan betapa penting dan alangkah nikmatnya jika kehidupan yang baik itu bisa kudapatkan.

Kembali. Meraihnya sebagai kewajiban personal. Kewajiban, terkait dengan hal-hal yang harus aku penuhi. Personal, terkait dengan aku. Bisa juga terhadap kamu, kamu, dan kamu. Itu kalau kamu yang membuahkan tulisan ini.
Dan kewajiban personal inilah yang aku anggap sebagai usaha.

Tidak ada yang menyangkal, sepertinya, jika aku katakan bahwa orientasi pengusahaan tersebut memerlukan dua aspek. Awal dan proses. Lebih spesifik lagi, mengenai memulai, membiasakan, dan terbiasa. Memulai mengarahkan manusia pada pembiasaan. Pembiasaan secara langsung akan mendorong perasaan terbiasa muncul. Tak perlu ada akhir. Ya. Usaha tak perlu ada akhir.

Aku sesungguhnya sangat paham akan terbiasa. Dan tahu cara membiasakan. Namun, tidak tahu memulai. Sering mempertanyakan. Mana yang lebih tepat? Apa, dari mana, atau bagaimana untuk memulai.
Bagaimana jika aku mengambil kata ‘apa’.
Apa? Apa yang harus dimulai? Niatkah?
Bagaimana jika aku mengambil kata ‘dari mana’.
Dari mana? Analaogi, apakah aku harus memulai dari Sabang dan mengakhirinya di Merauke?
Bagaimana jika aku mengambil kata ‘bagaimana’.
Bagaimana? Aku seperti memerlukan seseorang untuk mencontohkan cara memulai jika aku menggunakan kata ini.

Aku sendiri merasa bahwa saat ini tidak tepat untuk mempertanyakan. Bak retoris. Menyita waktu. Bagiku, tidak penting. Membuat parameter akan keberhasilan arahan menuju pembiasaan, itu lebih penting. Dengan begitu, kalau tidak mengerti apa, dari mana, dan bagaimana memulai, setidaknya aku jadi tahu bahwa memulai itu sudah kulaksanakan.

Aku bingung. Mungkin begitu pula dengan kamu.


Distorsi (Samar) Sebuah Biola

Kemarin saya menyaksikan sebuah acara peringatan ulang tahun ke-46 salah satu unit radio ITB, 8EH. Saya sesungguhnya telah menantikan acara ini sejak beberapa bulan yang lalu setelah melihat para bintangtamunya, yakni ISO, Apres, PSM, dan The Panasdalam. Sekedar mengingat, dulu saya menyaksikan tiga unit seni di atas saling berrkolaborasi dalam Concerto In G10 dan acara tersebut yang membuat saya tertarik kembali untuk menyaksikan kolaborasi-kolaborasi mereka selanjutnya. Apalagi The Panasdalam. Wuih…saya sudah menantikannya tampil (lagi) setelah menyaksikan atraksi mereka pada Workshop Muda Creativity beberapa bulan yang lalu.


Saya datang sebelum jam 7 malam. Mengantri dan untunglah bisa duduk di kursi lini tengah. Saya dan penonton lain disambut oleh alunan instrumental dari ketiga unit. Kemudian pembawa acara masuk. Sayang sekali saya sudah mendapatkan imej kurang bagus dari acara ini. Ya. Pembawa acara laki-laki kurang komunikatif. Matanya kurang menelusuri penonton. Seakan lawan bicaranya hanya si pembawa acara wanita. Sesekali menatap penonton, kepalanya menunduk. Dan saya cukup yakin untuk urusan yang satu ini, banyak penonton setuju.


Lagu kedua ialah I don’t wanna miss a thing (Aerosmith). Menampilkan duo vokalis dari Apres. Tahu ‘kan lagu aslinya kental nuansa rock. Namun, dengan dentuman drum yang monoton dan jenis suara vokalis menjadikan lagu ini lebih berkesan jazzy-pop. Yang paling disayangkan adalah sound system, lebih spesifik, microphone untuk PSM bervolum kecil. Begitu pula microphone yang digunakan kedua vokalis. Kurang keras sehingga suara mereka terdengar samar-samar.


Lagu ketiga adalah mahadewi. Seolah muncul perasaan kecewa. Vokalis kurang membantu penyempurnaan perasaan yang ingin ditimbulkan dari lagu ini. Namun, barulah lagu selanjutnya, yakni Sweet Child O’Mine, menjadi lagu hasil kolaborasi yang saya senangi dalam acara tersebut. Instrumen, bagus. Namun, suara melodi gitar kurang terdengar. Saat gitaris Apres memainkan melod gitar pada akhir lagu, sama sekali tidak terdengar karena suaranya samara-samar, ditiban oleh alunan orkestra. Dan satu hal terpenting. Sekali lagi, microphone tidak bersahabat dengan vokalis lelaki. Satu lagi yang seharusnya bisa diperbaiki. Vokalis tidak ‘bertingkah’. Coba kalau ‘bertingkah’ alias lebih atraktif, saya sangat ingin memberi standing applause.


Penampilan selanjutnya yakni sang bintang tamu utama. The Panasdalam. Mereka membawakan lagu-lagu sama seperti lagu yang dibawakan saat Workshop Muda Creativity. Makanya telinga saya langsung awas tiap mendengar bait liriknya. Kalau urusan sound system dan atraksi panggung, ya saya bilang mereka sudah punya tim dan ciri khas sendiri. Makanya, oke banget-lah.


Lagu selanjutnya yang dibawakan berasal dari band Within Temptation, yakni Memories dan Our Solemn Hour. Kali ini vokalis wanita saja yang bernyanyi. Saya yakin benar setelah penampilan The Panasdalam, khususnya volume microphone sudah diperbesar. Namun, sepertinya memang volume suara sang vokalis kecil. Sayang. Kurang terdengar. Akan tetapi, untuk lagu Our Solemn Hour, saya sangat terkesan. Mungkin karena saya belum pernah mendengar lagu ini sebelumnya, jadi tidak dapat membandingkan antara yang asli dan hasil kolaborasi tiga unit seni ITB. Namun, dari kesan pertama, bagi saya PSM sangat membantu pembawaan lagu ini (terutama setelah penampilan The Panasdalam, volume microphone sudah diperbesar). Semacam memberi kesan gothic. Namun sepertinya sang vokalis wanita seolah sedang membawakan lagu ceria. Bagi saya kurang deh penjiwaan lagunya. Sayang, padahal instrument dan backsound sudah oke banget.


Lagu terakhir adalah Bohemian Rhapsody yang dikolaborasikan antara tiga unit seni dan The Panasdalam. Saya merasa ada sedikit miss-communication antara vokalis tambahan The Panasdalam dengan PSM pada awal-awal lagu. Tapi tidak tertera banget sih. Cukup oke. Untuk gitar, sound-nya juga sudah bagus. Dibuktikan dengan irama melodi gitar dari gitaris The Panasdalam yang enak didengar. Berbeda dengan suara gitar dari gitaris Apres yang masih menimbulkan kesan 'kresek-kresek'.


Pukul 21.00 lewat sedikit ketika kedua pembawa acara mengumumkan bahwa acara telah selesai. Apa maksudnya? Saya pun seolah mau membuat pernyataan di sini. 8EH seperti telah melakukan pembohongan publik. Jelas-jelas di tiketnya ada tulisan : START=7PM dan END=10PM. Saya seperti ingin menagih kembali uang saya.


Dan sekedar ingin menanggapi distorsi sebuah biola, tema acara ini. Menurut saya, kurang bagus untuk menonjolkan kata ‘sebuah biola’, karena dalam keseluruhan acara, biola tidak menjadi sesuatu yang menonjol. Semua instrument seolah sama. Kecuali untuk menarik minat, sebaiknya tema pun diperhatikan. Sesuaikah dengan konteks acara. Tapi ya ga' apa-apa juga sih. Tetap keren kok.


Berakhirlah sebuah konser kolaborasi malam itu. Dan saya kembali ke kost-an,menonton RCTI, menyaksikan konser berikutnya. Konser wanita-wanita muda-cantik didikan saya dalam Miss Indonesia. Ehehe...


-nge pos dengan beberapa editan di sana sini, u/ mencegah kesalahpahaman terhadap berbagai pihak. Pis!-

Rabu, 03 Juni 2009

Kenapa Ada Banyak 'Kenapa Orang Bilang' dalam Hidup Saya?

Kenapa teman dekat bilang saya rakus ?
Kenapa teman sekost-an bilang saya alay ?
Kenapa teman sekelas SMP bilang saya muka tembok ?
Kenapa banyak orang bilang saya aneh ?
Kenapa ada teman laki-laki bilang saya manis tapi teman perempuan bilang saya brutal ?
Kenapa mama bilang saya gendut ?
Kenapa teman bilang saya pemberani (setelah melihat saya membunuh kecoa) ?
Kenapa ada teman bilang saya norak ?
Kenapa banyak teman bilang saya heboh ?
Kenapa dulu mama bilang saya punya 'kemampuan lebih'?
Kenapa Nenek Aji bilang saya cerdas (sambil menunjuk tahi lalat di dahi kiri saya) ?
Kenapa kak Naufal bilang saya cerdas-kreatif-inovatif ?
Kenapa Ikbar pernah bilang saya jahat ?
Kenapa ada teman yang bilang saya gokil ?
Kenapa ada teman yang bilang saya lebai ?
Kenapa papa bilang saya mirip dia dan kakek ?
Kenapa banyak teman bilang alis saya unik ?
Kenapa banyak teman bilang saya macho?

Kenapa saya bilang saya HEBAT?

Senin, 01 Juni 2009

Kangen

Jing te-ro-jing
te-ro-jing
te-ro-jing
'Udah waktunya libur tapi saya belom bisa pulang.
Padahal saya 'udah ga' pulang berbulan-bulan.
Setahun ini pulang bisa diitung berapa kali, berapa hari juga.
Rumah saya 'kan tinggal ngesot sebenarnya, kata orang-orang,
tapi kenapa tiap saya coba ngesot di kost-an tetap ga' sampe-sampe di rumah.
Apa gaya ngesot saya kurang mantab.

Aduh Bandung yang selalu bikin lapar masih menahan saya.
Menahan saya dari hedon paling Assoy!
teng-te-reng-teng-teng-TIDUR,
tidur sampe pusing kepala,
yang bisa dilakukan di rumah di BSD di Tangerang atau
di rumah di Surabaya di Jawa Timur.

Atau di mana 'aja asal bisa tidur saya-nya.

Kangen juga sama masakan rumah.
Sebenernya ga' ngaruh sama masakan rumah,
tapi kalo 'udah di rumah bisa MINTA makan sepuasnya
Itu baru salah satu NIKMAT DUNIA...!

Pokoknya sekarang lagi kangen saya-nya
Sya la la la la la la
Kenapa saya malah berdendang
Aduh perut lapar...
Memang Bandung suka bikin perut saya lapar
walaupun saya memang selalu lapar setiap saat-setiap tempat

Kangen
Cepat pulang , cepat kembali , ga' mau pergi lagi
Firasatku ingin ku 'tuk cepat pulang
Malah nyanyi...



nge-pos lagi norak pake' warna-warna


Selasa, 26 Mei 2009

Senang Kuliah di ITB

Tahu 'kan ada baliho ini di gerbang depan ITB...?

Seneng deh kuliah di kampus yang
ngebolehin mahasiswanya nyontek sebebas-bebasnya...

ASIIIK...!!!

nge-post di Bandung yang sering bikin saya lapar

Minggu, 24 Mei 2009

Saya BAHAGIA jadi PREMATUR...!

Kemarin saya membaca sebuah artikel tentang bayi prematur. Salah satu paragrafnya berbunyi :


Pada bayi prematur dengan usia kehamilan lebih dari 32 minggu memiliki ketahanan hidup dan prospek kualitas perkembangan lebih baik dibandingkan bayi dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu.


Sekedar ingin mengenang masa lalu. Saya pun segera mengirim pesan singkat kepada Ibu, sekedar menanyakan berapa minggu saya berada dalam kandungannya. Karena saya ingat bahwa saya pun bayi prematur.


Saya : Ma, aku dulu premature berapa minggu?

Mama : 30 minggu. Kenapa?

Saya : Ga’. Lagi baca artikel tentang premature.

(Saya lalu menyebutkan isi paragraf di atas)

Mama : Ya tapi ‘kan Ucan perkembangannya sangat baik, Sayang.

Saya : Iya, Ma. Makanya aku bilang itu ga’ berlaku.

Mama : Ya nggak juga, Sayang.

Saya : Ma, kok aku bisa premature?

Mama : Ya ‘kan kecapekan gendong kak Naufal.

Saya (dalam hati) : Wajar sih…tapi ya ampun, Ma. Nggak banget deh alasannya.

FYI : Saya dan kakak berbeda 18 bulan. Berarti, 11 bulan setelah melahirkan kakak, Ibu saya hamil lagi. Ya ampun, tidak sampai setahun di dalam perut beliau sudah ada manusia lagi…!


Dulu Ibu saya pernah bilang kalau sewaktu mengandung saya, bahkan sampai bulan ke-4, beliau masih belum tahu bahwa ia hamil. Karena baru melahirkan kakak saya, beliau rajin berolahraga, terutama aerobik supaya badannya cepat kembali ke bentuk semula. Nah…itulah yang mengganjal saya. Saya rasa saya jadi bayi prematur karena tidak bisa bernafas disebabkan oleh Ibu saya yang suka loncat-loncat selama mengandung saya.

Mungkin karena itu sekarang saya jadi anak sehat. Senang loncat-loncat dan bergerak.


Walaupun lahir secara prematur.

Walaupun harus masuk incubator.

Walaupun harus merasakan kulit keriput dan berwarna kuning.

Walaupun perkembangan saya kurang sempurna, lihat saja muka saya yang kecil.

Walaupun harus ditiban muka saya pakai bantal oleh kakak saya yang sebal karena saya dianggap mencuri perhatian Ibu.


Sekarang…lari saya ‘sedikit’ lebih cepat dari teman-teman sekelas.

Daya tahan tubuh saya ‘sedikit’ lebih tinggi dari teman-teman sekelas.

Kualitas berpikir saya (insya Allah) setara dengan teman-teman.


Hal-hal itulah yang membuat saya merasa punya kelebihan.

Saya lahir tidak normal (menurut ilmu kedokteran, prematuro adalah salah satu jenis kelahiran yang dianggap tidak normal) tapi saya bisa bertahan layaknya manusia normal.

Intinya adalah saya bahagia terlahir secara prematur!

Yeah…!