Tampilkan postingan dengan label About ITB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About ITB. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2009

ITB FAIR 2010


BERSINAR
::Bergerak :: Sinergi :: Berkarya

Contact :
Facebook
Plurk

It's not just a title
Sudah sebuah kepastian bahwa ITB, sebagai Institut Seni, Sains, dan Teknologi memiliki ragam potensi. Potensi-potensi ini kini tidak dapat dipungkiri memiliki perbedaan satu sama lain, namun yang paling utama disini adalah ragam keprofesian. Ragam inilah yang menjadi dasar dari mahasiswa ITB. Ragam ini pulalah yang menjadi kebutuhan dasar dan faktor identitas dari mahasiswa ITB.

Untuk menjawab hal-hal itu, tergagaslah ide Ganesha Bersinar, yang diwujudkan dalam ITB FAIR 2010. Yang proses keberlangsungannya akan diadakan dalam 2-3 hari. Namun, sebenarnya titik gerakan utama ini berasal dari gerakan 5 bulan yang akan memiliki dampak berjangka panjang.

Bagaimana dengan langkah-langkahnya?
BERGERAK yaitu sebagai aksi memfasilitasi gerakan-gerakan keprofesian yang telah tersebar di berbagai himpunan mahasiswa jurusan
SINERGIS
sebagai aksis memeratakan kemampuan keprofesian KM ITB
BERKARYA sebagai penginspirasi atas pergerakan dunia keprofesian

Tujuan utama diadakan ITB FAIR 2010 itu sendiri adalah,
"Mensinergikan gerakan keprofesian ITB dengan menciptakan muara gerak pengembangan komunitas sebagai suatu semangat bersama agar tercipta suatu `new movement of students' di Indonesia".
:: puncak eskalasi Kabinet KM ITB, inisiasi berkreasi dan berkarya,manfaat bagi orang lain, kolaborasi dan prestise dan apresiasi ::

ITBFAIR 2010 menjadi :
1.Puncak kegiatan Keprofesian mahasiswa
2.Memberi manfaat secara langsung kepada Masyarakat (ex.instalasi karya) juga secara tidak langsung kepada masyarakat (ex.pendidikan, informasi)
3.Momentum inovasi IPTEKS sebagai solusi permasalahan yang ada
4.Mendorong partisipasi, komunikasi dan kolaborasi lintas keprofesian maupun sinergisasi dan kerjasama dengan berbagai pihak


(The Event.. National Scale, Once In Two Years)
this is OUR BIG MOVEMENT !

Latar belakang dan tujuan ITBFAIR 2010 , dituangkan dalam berbagai bentuk rangkaian acara:
1) Community Development Contess (CDC) :
CDC melombakan gagasan mahasiswa dari lintas jurusan untuk bersama- sama memecahkan suatu permasalahan di masyarakat berupa rancangan program pengembangan komunitas. Basis peserta merupakan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang berkolaborasi bersama HMJ lainnya dan peserta dari perguruan tinggi lain.
2) Idea Mall
Mall ide adalah suatu wahana tempat berkumpulnya berbagai ide yang inspiratif. Konsep mall ide terdiri dari berbagai display karya expertise di bidang pengembangan komunitas (LSM), display karya expertise yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
3) Konferensi Mahasiswa
Kehadiran mahasiswa Indonesia diharapkan mampu dimanfaatkan secara lebih. Mahasiswa dari seluruh Indonesia diharapkan mampu saling bertukar pikiran akan isu integrasi keprofesian dengan pengembangan komunitas.
4) Expo
Publikasi karya umum mahasiwa ITB dan Pameran karya dan inovasi mahasiswa.
5) Karnaval
Karnaval merupakan suatu trademark positif.
6) Art and music performance
Seni dan musik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Penampilan seni dan musik diharapkan mampu menyemarakkan ITB FAIR 2010.
7) Launching Majalah
Majalah keprofesian ITB diharapkan mampu menjadi enzim penjaga sustainability budaya berkarya di ITB khusunya dan mahasiswa Indonesia umumnya. Konsep majalah keprofesian ini akan dibuat paperless alias digital yang dipasarkan melalui situs- situs jejaring sosial.
8) Community Service
Kegiatan ini dimaksudkan agar ITB FAIR 2010 tetap membumi dengan melakukan langkah konkret jangka pendek kepada masyarakat.
9) Zero waste event
10) Kegiatan-kegiatan lainnya yang ternaung didalam PRE and EVENT.
11) Etc.




::we wait you::
to support this event


Kamis, 20 Agustus 2009

Lama

Lama blog saya kosong

Info saja...
kayaknya makin lama blog saya bakal masih kosong
PEKKA HMTL telah dimulai soalnya...

Minggu, 21 Juni 2009

Mataku di TPB

Ya ini adalah posting berisi penilaian saya terhadap himpunan-himpunan di kampus Ganesha. Murni penilaian saya selama TPB (TPB? Makanan apa tuh cuy?) Jadi keputusan di sini tidak dapat diganggu gugat. Karena cuma saya ya mas/jeng, yang bisa menggugat keputusan sendiri.
Nyok mulai 'aja cuy!


Jahim terBagus : HMS
Yel terSeru : HMT
TerEksis : HMP
Terasi : Di dapur
TerSibuk : HMTL
Terbaik : No comment
TerG40EL : MTI
TerMacho : HMM
TerMachi (maksudnya lawannya macho, gitu) : NYMPHAEA
TerIsu : GEA
TerUskanlah : Agnes Monica
TerSolid : HME (sayangnya bukan si Solid***** 4ever)
Terampil : KMSR (masih ngomong...)
TerIyaki : ENAK
TerEtek-tek-tek : KMSR
TerBang 'aja sono : KMPN (tapi udah berubah tuh jadi AE yang susah disebutin. Saya mah sukanya ngomong EA EA...)
TerGanteng : HMM & Patra
TerCantik : SAUSAN A.M.
TerGiur jadi Menteri : Pak Rektor
TerOr : Ketika mas/jeng jalan sendirian malam-malam di kuburan
TerTipu : HELLO - Ular Berbisa
TerIsa (Taj Mahal) : IMA-G
TerUs terang : PHILIPS terang terus
TerIak : HMT
TerEnggelam : HMO
TerApung : KMKL
TerBeda : HIMASTRON (soalnya kahim-nya cewek gitu lo...)
TerNgiang2 di otak : IMA-G, IMMG, KMSR
TerDampar di pulau (tak terdengar kabar) : HMGM

Udah ah capek cuy...

Sabtu, 20 Juni 2009

AADP ( Ada Apa Dengan Penjurusan?)

Baru saja saya berkomunikasi dengan teman se-jurusan via Yahoo Messenger. Kami sedang merekap siapa-siapa saja yang masuk jurusan yang sama (dengan kami, tentunya). Lalu sampailah teman saya itu mengabarkan kalau beberapa teman sekelas kami yang memilih TL sebagai pilihan pertama malah TERLEMPAR ke jurusan KL.

Aneh bin Ajaib

Mengapa? Karena sesuai dengan omongan Dekan, kuota TL diyakini sebanyak 100 orang. Sedangkan terakhir kali pengisian kuesioner penjurusan, jumlah peminat TL sebanyak 92 orang. Jelas-jelas jumlah peminat lebih sedikit daripada kuota 'kan? Iya 'kan mas/jeng?

Lantas, apa yang membuat beberapa teman sekelas saya terlempar ke KL? Bukannya 92 pemilih itu sudah pasti masuk? Dari awal 'kan sudah ditetapkan penjurusan berdasarkan pilihan pertama.

Pilihan pertama teman2 saya itu TL, lho. Kok tiba2 terlempar ke KL? Dan itu yang saya tahu di kelas saya sudah 3 orang, lho! Bayangkan! Itu yang baru saya tahu. Baru tahu 'aja 'udah 3 orang, apalagi yang di kelas lain. Mungkin lebih banyak. Dan yang lebih parah, di antara 3 teman saya itu, beberapa selalu mengisi kuesioner dengan TL sebagai pilihan pertamanya dan ada yang IP-nya di atas 3. WTF...?

Terus gimana nasib teman2 saya itu, mas/jeng? Bukannya dengan 92 berbanding 100 itu sudah menyiratkan bahwa TIDAK ADA PERSAINGAN IP untuk masuk TL? Bukan bermaksud sombong, tapi secara logika ya memang mestinya semua (92 orang) itu bisa masuk kan?


Selasa, 26 Mei 2009

Senang Kuliah di ITB

Tahu 'kan ada baliho ini di gerbang depan ITB...?

Seneng deh kuliah di kampus yang
ngebolehin mahasiswanya nyontek sebebas-bebasnya...

ASIIIK...!!!

nge-post di Bandung yang sering bikin saya lapar

Rabu, 01 April 2009

BAKSOS 2008

Assala mu'alaikum wr.wb.

Melalui blog ini, saya ingin mempublikasikan sebuah acara dari TPB 2008 ITB, yakni

BAKSOS 2008

Partisipasi dari mahasiswa ITB 2008 sangat diharapkan di sini. Kalian bisa menyumbang :
1. Pakaian layak pakai
2. Buku Bacaan (untuk SD-SMP-SMA)
3. Uang seikhlasnya

Lokasi pengumpulan barang ada di DPR (di bawah pohon rindang) - TVST
Mulai 2 April 2009 pukul 11.00 - 12.30

Untuk penyerahannya, tanggal 18 April 2009
di
Panti Asuhan Al-Amin , Jl. Merdeka, Bandung

Terima kasih
Semoga segala sesuatu, baik materi/imateri yang kita berikan dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Wassala mu'alaikum wr.wb.
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater!

Sabtu, 21 Maret 2009

Mana Nih Putra/Putri Terbaik Bangsa...?

Hari ini saya mengikuti Hearing 2 Pemilihan Ketua Umum Ugreen yang dilaksanakan sejak pukul 10.00 sampai 3 sore. Lalu dilanjutkan dengan Musyawarah Anggota hingga pukul 8 malam yang menghasilkan mufakat menunjuk Vera ‘Vey’ Yulia sebagai Ketua Umum Ugreen periode 2009/2010. Selamat, Kak!

Dalam tulisan ini saya bukan bermaksud untuk menceritakan kronologis atau apa-apa yang berhubungan dengan Calon Ketua Ugreen. Yang ingin saya bahas adalah mengenai kata-kata dari Kak Sonny (mantan ketua Ugreen dulu sekali, sudah di luar ITB, anggaplah ia ‘sesepuh’). Kurang lebih intinya seperti ini:

“ Waktu saya singgah beberapa bulan di UGM, saya menemukan banyak perbedaan antara mahasiswa UGM dan ITB. Jelas sekali kalau anak ITB itu sifatnya childish tapi teoritis. Seakan buku kalkulus tidak mau dipisahkan darinya.”

Saya yakin Anda-anda sebagai pembaca sudah mengerti akan pernyataan di atas.

Beliau (dengan penekanan) juga mengatakan bahwa di UGM banyak terlihat produk-produk mahasiswa yang bermanfaat. Saya kira saya perlu untuk beropini mengenai ini.

Dari kalimat-kalimat tadi, yang menjurus pada inti, bahwa di sekitar gedung perkuliahan UGM, banyak terlihat produk-produk dari mahasiswanya. Bahkan di sekitar rumah-rumah penduduk. Maka, bandingkanlah dengan ITB yang hingga saat ini (dengan konteks Putra/Putri Terbaik Bangsa, suatu elu-eluan dari rektorat bagi setiap mahasiswanya), bahkan membuat produk untuk dipublikasikan atau minimal digunakan di kampus saja belum mampu (atau mungkin lebih tepat saya katakan, belum MAU).

Ke mana sih Putra/Putri Terbaik Bangsa kita?

Saya ulang kembali Tri Dharma Perguruan Tinggi:

1. 1. Pendidikan

2. 2. Penelitian

3. 3. Pengabdian Masyarakat

Saya kira, Tri Dharma Perguruan Tinggi ini berlaku bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Tapi, apakah prinsip yang sama berlaku juga di ITB? UGM secara nyata telah membuktikan bahwa mereka menjalani pendidikan dengan iringannya melaksanakan penelitian, dilanjutkan dengan hasil yang ditujukan untuk mengabdi kepada masyarakat. Lha ITB…?

Saya bukannya menutup mata atas kemampuan mahasiswa ITB. Saya tahu kok, bahwa Elektro (maaf kalau kurang detail, saya lupa) punya proker ke desa-desa yang sudah mulai dilaksanakan dan dikatakan oleh beberapa orang, berjalan dengan baik. Saya tahu kok, kalau KM ITB sering memandu/membimbing anak-anak asuh. Saya tahu juga, ada keranjang takakura di ITB yang kalau dimanfaatkan, bisa membantu mengurangi polusi di lingkungan kita.

Tapi jika dibandingkan dengan kemampuan, potensi, dan kuantitas mahasiswa yang sedang menjalani studi di ITB dengan jumlah 10 ribu orang lebih, produk-produk seperti pernyataan di atas masih sangat kurang. Dalam arti, mahasiswa ITB tidak produktif.

Kalau ditanya soal teori, anak ITB jagonya. Tapi kalau disuruh membuat produk, merealisasikan hasil dari teori tersebut, kok putra/putri terbaik bangsa kita malah bingung sendiri…?

Heran.

Catatan Pendek :

Landasan saya dalam menulis opini ini, saya akui, masih kurang. Sumber-sumber yang mengatakan bahwa ITB punya ini lho…ITB punya itu lho…belum saya ketahui sepenuhnya. Saya yang notabene-nya masih berstatus TPB (mahasiswa ‘cupu’, kata Tito) ini masih dalam tahap belajar, oleh karena itu juga masih butuh bimbingan dari luar untuk lebih memahami tentang ‘apa sih yang sudah mahasiswa ITB lakukan?’ Ya saya selaku penulis dan Anda selaku pembaca, sharing-sharing sajalah lewat blog ini.

Senin, 12 Januari 2009

Musyawarah Kerja Boulevard (2)

Pukul 02.00

Malam yang dingin dan menegangkan sepertinya bagi Nise (Dwi Arryma Niza), dengan (terlihat) ngantuknya, namun tatapan masih tajam dan muka masih memberikan kesan galak. Dalam LPJ ini, saya menangkap bahwa kurangnya koordinasi antara Nise dan staf-staf redaksi serta dengan para pemimpin bidang lainnya-lah yang paling banyak disinggung. Satu hal yang mencengangkan saya bahwa ini kali pertama saya bertemu perempuan dengan tampang berkesan jutek dan bernada bicara galak, tetapi tetap cantik (serius, cantik!) di tengah ketegangannya. Fakta bahwa sebenarnya bukan saya saja yang berpendapat seperti ini. Ha ha ha.

Pukul 03.56

LPJ untuk Nise selesai dilaksanakan. Seperti Windy, semua menerima LPJ-nya. Saya sebenarnya berpikiran bahwa untuk redaksi ini, tidak ada kesalahan berarti. Jadi, pantaslah kalau diterima. Arfah atau Jofa (saya lupa) selaku moderator memberi waktu istirahat. Namun, istirahat diberikan lebih untuk melaksanakan shalat Subuh. Istirahat kali ini merupakan satu-satunya hal yang paling dinantikan oleh semua Boul’ers (kecuali Ray). Karena (gila) semalaman tidak ada waktu untuk tidur. Waktu terlewati (bukannya tak berarti) dengan mendengarkan cercaan-cercaan para petinggi Boulevard terhadap ketiga pejabat Boulevard yang akan segera turun ini.

Pukul 05.50

LPJ untuk pejabat tertinggi dalam Boulevard telah tiba. Dengan tampang beler, ngantuk, dan nafas bau odol para Boul’ers duduk kembali di atas karpet. Ray memulai LPJ–nya dengan sedikit mengoceh tentang asal-usul dirinya dalam Boulevard. Musyawarah (lagi-lagi) 90% (dalam perhitungan abstrak saya, ha ha ha) menyinggung total kepribadian Ray, terutama mengenai ketidaktegasannya selama kepengurusan. Namun, tidak seperti Dipta, ada beberapa orang yang mendukung calon ‘mantan PU’ ini, terutama Ika, yang memang telah yakin bahwa Ray mampu sedari awal untuk memegang jabatan tersebut.

Dalam LPJ ini saya baru pertama kali melihat Ray banyak terdiam lesu, tegang, dan tidak mengoceh seperti biasanya. Ha ha ha. Bisa juga dia anteng (kalem).

Pukul 08.55

LPJ selesai ditandai dengan mutlak (semua setuju) diterimanya LPJ Ray.

Sekitar pukul 09.40

Acara terakhir dari MuKer ini adalah pemilihan para pejabat baru di Boulevard selanjutnya. Dimulai dari PU, yang mana Ray mencalonkan Panji dan Devy. Keduanya dipersilahkan keluar sejenak agar kami, Boul’ers bebas menyuarakan pendapat mengenai plus-minus-nya memilih salah satu dari mereka.

Usai berdiskusi, kedua orang calon PU tersebut dipanggil satu-satu untuk dibantai oleh pertanyaan seputar ‘menjadi PU’. Diawali oleh Devy yang berakhir dengan kata-kata ‘Gw lebih nyaman menjadi PemRed’.

Devy dipersilahkan kembali keluar, berganti Panji. Ya pada intinya pertanyaan yang diajukan adalah sama. Langsung saja pada hasil akhir yang membuktikan bahwa ke-multiable-an Panji dalam 3 bidang Boulevard itu berarti sebagai pengantar menuju Pemimpin Umum.

Pemilihan selanjutnya adalah PemRed (Pemimpin Redaksi). Nise mencalonkan Devy (lagi?!) dan Vivin, yang tidak hadir dalam MuKer (menyusul). Namun, terlihat jelas bagi saya bahwa Nise pun sebenarnya lebih cenderung ke arah Devy yang telah meyakinkan Boul’ers bahwa Boulevard adalah prioritas utama melebihi kuliah baginya. Yang lain pun setuju, mengingat Vivin adalah orang yang sibuk. Akhirnya, hasil voting menentukan bahwa Pemimpin Redaksi baru di Boulevard adalah Devy.

Selanjutnya adalah perusahaan. Windy (TL 07) mencalonkan Hasan (KIM 06) dan Niki (STEI 08). Niki sedari awal sudah mengatakan tidak siap untuk hal ini. Untungnya pernyataan tersebut didukung oleh semua yang berpikiran sama, yakni ‘mempersiapkan Niki untuk satu tahun ke depan’. Maka, terpilihlah Hasan sebagai Pemimpin Perusahaan yang baru.

Pemimpin terakhir yang harus dipilih adalah Redaktur Artistik. Terlihat bahwa Dipta kewalahan mencari calon. Ia pun mengikuti saran Panji, yang menginginkan Gio kembali menjabat kedudukan tersebut. Dipta pun mencalonkan (prematur) Yudhi dari 2008. Namun, Yudhi menolak, malah mengoper pencalonan ini kepada Faisal yang juga 2008.

Setelah kedua calon dipersilahkan keluar, Boul’ers bermusyawarah lama. Semua kebingungan. Di antara 2 orang tersebut, semua cenderung memilih Gio. Sayangnya, Gio telah menjadi Kadiv. di himpunannya, Fisika Teknik. Belum lagi keaktifannya di Gamais, dll. Semua merasa kasihan apabila ia harus mengemban tambahan tanggung jawab (yang pernah ia emban dahulu) di sela-sela prioritasnya yang lain. Jika memilih Faisal, teman-teman se-artistik serta Panji yang notabene-nya telah menjadi Pemimpin Umum keberatan karena yakin nantinya selain harus berurusan dengan otak (pemikran) ,tapi juga harus berurusan dengan hati (perasaan). Lagipula, ditakutkan kepengurusan akan seperti pada masa Gio yang dahulu juga prematur, pengalaman kurang.

Dengan diskusi alot tersebut, Boul’ers belum menemukan mufakat. Di sela-sela, Dipta menghubungi Ciduy, memintanya untuk mau menjadi calon Redaktur Artistik. Dengan jawaban bahwa Ciduy mau menerima permintaan tersebut, akhirnya musyawarah ditunda karena menunggu ‘kampanye’ dari Ciduy esoknya di sekre, pukul 08.00.

Sekitar Pukul 14.00

Waktunya untuk pulang. Sebenarnya Ray tidak menjadwalkan pulang jam segitu, tapi apa daya energi masing-masing personal sudah tidak mencukupi untuk bersenang-senang ria. Bahkan Panji (terlihat) tidur nyenyak di atas kursi. Usai makan siang dengan ikan bakar ber-karsinogen dan pahitnya minta ampun dari Botram, Boul’ers kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sekali lagi menumpang mobil orang.

Musyawarah Kerja Boulevard (1)

Musyawarah Kerja Boulevard


Saat itu menjadi siang yang dingin ketika saya sedang berjalan kaki menuju sekre Boulevard. Memang akhir-akhir ini Bandung sering gerimis sampai-sampai udaranya terasa dingin meskpun belum turun gerimis, apalagi hujan. Ingin hati ini mencitu, namun tidak bolehlah. Saya ‘kan berniat mengikuti kegiatan Boulevard. Bagian depan sekre-nya yang berbau apek juga (ternyata) tidak menciutkan hati saya.

FYI, kegiatan Boulevard ini berjudul MuKer (musyawarah kerja) yang akan diadakan di Padasuka (entah di mana tempatnya). Kegiatan ini mengambil waktu sebanyak 2 hari 1 malam, dterbagi menjadi 3 acara, yakni Aku & Boulevard, LPJ, serta pemilihan para pemimpin baru. FYI lagi, Boul’ers (sebutan untuk anggota Boulevard) diharapkan berkumpul di sekre pukul 11.00.

Pukul 11.04

Saya menginjakkan kaki di sekre Boulevard. Di dalamnya sedang duduk Hasan dan beberapa teman 2008. Saya duduk dan mengikuti obrolan kecil dalam kumpulan orang tersebut, sembari melirik-lirik sejenak ke arah televisi.

Sekitar Pukul 12.00

Ray, si Pemimpin Umum, orang yang kami tunggu sedari tadi tak kunjung datang. Kami, orang-orang yang berada dalam sekre akhirnya memutuskan untuk shalat dan makan siang dahulu di Salman.

Sekitar Pukul 14.30

Meskipun Ray belum terlihat batang hidungnya, kami yang sudah datang ini memutuskan untuk pergi dahulu. Secara transport (mobil Niki dan Dep) sudah tersedia. Setelah masuk ke mobil tumpangan masing-masing, datanglah Ray dengan wajah tegang (faktor akan di-LPJ nanti malam) bersama motornya. Arfah selaku orang tertua di sana, sempat jengkel dengan menegur Ray. Namun, akhirnya kami berangkat juga. Urusan yang lain bagaimana, itu resiko datang terlambat.

Sekitar pukul 16.00

Sampailah kami di tempat tujuan. Sebuah rumah milik adik kelas Dep (kembar) dengan jalan menuju ke dalamnya yang tak beraspal menjadikan rute cukup sulit dilalui. Untunglah sepanjang perjalanan, saya tidur.

Sekitar pukul 17.00

Aku & Boulevard dimulai. Acara ini hanya sebagai ajang cerita-cerita mengenai diri kita menjelang dan selama menjadi Boul’ers dengan moderator Arfah.

Pukul 19.40

LPJ dimulai. Jujur baru kali ini saya menghadiri sebuah musyawarah yang alot dan memakan waktu lama dalam satu waktu. LPJ yang pernah saya alami sewaktu SMA hanyalah sebatas orang-orang bertanya atau lebih tepatnya meminta pertanggungjawaban dari para petinggi OSIS, dan 1 orang petinggi hanya beberapa menit.

OK. Mulai saja. Orang yang pertama di-LPJ kan adalah RedArt (Redaktur Artistik), Ardya Dipta. Ia duduk di sebuah kursi, sebutlah hot seat, di tengah-tengah kami para boul’ers yang duduk lesehan bersandarkan tembok-beralaskan karpet. Saya, yang mana ingat bahwa dalam suatu musyawarah perlu ada seorang notulen, berinisiatif mencatat. Baru beberapa menit mencatat secara manual (tulis pakai pensil), saya sudah disodori laptop oleh Ray. ‘Tulis di sini aja,biar gampang’, katanya.

Saya bersemangat sekali menulis. Semua yang diomongkan dalam musyawarah itu saya tulis. Orang yang bertanya, jawaban dari Dipta, pokoknya hal-hal yang disampaikan sehubungan dengan LPJ. Dep, orang di sebelah saya, bahkan pernah ber-ckckck menanggapi suara ketikan tangan saya. Tidak apa-apalah, biar nggak ngantuk.

LPJ untuk Dipta merupakan awal musyawarah yang ekstrim bagi saya. Bagaimana tidak? Yang saya tangkap, semua orang memberi kesan memojokkannya. Hal yang paling disinggung adalah mengenai kepergiannya (yang sangat salah waktu) ke Australia saat orang malah membutuhkan sosok pemimpin bidang artistik. Masalah lain adalah kecerobohannya pada edisi 61 mengenai deadline artistik. Ujung-ujungnya, para penanya, menanyakan prioritas Boulevard baginya, yang kemudian dijawab dengan jujur bahwa ia lebih senang berada di himpunannya, Elektro. Suatu hal yang sangat saya maklumi, karena saya pun belum merasakan kenyamanan berada di Boulevard.

Namun, satu hal yang membingungkan saya adalah dalam musyawarah ini, karakter/kepribadian seseorang dibawa-bawa, bahkan lebih banyak didiskusikan ketimbang cara kerjanya.

Pukul 22.45

LPJ untuk Dipta telah selesai dengan hasil voting: Tolak=3 suara dan Terima=22 suara. Berarti, LPJ-nya diterima. Waktu istirahat diberikan oleh Arfah selama 10 menit sebelum dilanjutkan kepada LPJ Windy.

Pukul 23.05

LPJ kedua dari Pemimpin Perusahaan, Windy Iriana. Saya digantikan Nurul untuk menjadi notulen. Makanya saya kurang fokus mendengarkannya karena ngantuk. Sepertinya, hal yang paling disinggung adalah mengenai harga jual Boulevard yang dianggap oleh para petinggi kurang sesuai dengan isi Boulevard itu sendiri alias kemahalan.

Pukul 01.45

LPJ untuk Windy selesai. Semua menerima LPJ-nya, tanpa terkecuali saya. Untuk bidang ini, saya memang dari awal yakin kalau Windy telah memberikan kinerja yang baik.

-bersambung ke bagian 2-

Rabu, 07 Januari 2009

Relay Obor #8 (2)

Relay Obor #8 (2)

Terra, sebagai himpunan yang pertama me-relay obor hari itu, sudah membangkitkan semangat kami, para panitia, lewat ajakan mereka untuk berlari membawa obor. Dari Geofisika, kami berjalan melewati Teknik Industri dan Mesin untuk dapat menginjakkan kaki di depan NYMPHAEA. Saat melewati HMM, gerombolan kami sempat ditegur karena di sana sedang diadakan ujian. Namun, teguran tak menumbangkan semangat Geofisika untuk tetap berlari. Sampai di depan mahasiswa NYMPAHEA, barulah mereka membungkam diam, segera membentuk lingkaran, lalu dengan aba-aba, semua diperintahkan turun.

Untuk apa?

Push up 2 seri.

Bahkan para panitia ikutan push-up. Tapi, saya dan Nella, yang sedang berdiri tepat di atas tangga, dengan bodohnya malah turun agar tidak terlihat oleh panitia lain. Supaya tidak disuruh push-up. Hahaha. Mau sih push-up, tapi memang tidak dapat space untuk melakukan push-up. Setelah push-up selesai dilakukan, TERRA menyerahkan obor kepada NYMPAHEA.

Suasana 360 derajat berbeda dengan TERRA. NYMPHAEA, yang memang banyak cewek-nya, justru memilih jalan perlahan menuju rute selanjutnya, ISF. Suasana berbeda juga terlihat dari jargon-jargon dan jenis suara yang dikeluarkan. Kalau tadi suara berat “HO-HO”, kali ini suara cempreng “HI-HI”. Mana sepanjang jalan pada ketawa-ketawa semua.

Sampailah kami di Plasa Soekarno. Saya kira memang di situlah rute penyerahan obor. Sebab, NYMPAHEA berhenti berjalan. Namun, bukannya membentuk lingkaran seperti yang dilakukan oleh TERRA, mereka malah berfoto-foto di depan Plasa Soekarno. Yang cewek-cewek berulang kali minta lagi. Yah…dasar cewek.

Sampailah kami di depan ISF. Di sana, ISF dan NYMPHAEA segera bergabung dan berfoto di dekat Plasa Widya. ISF membentangkan lebar-lebar bendera Malaysia dan Indonesia, dan 1 bendera Kamboja yang ukurannya lebih kecil. Dalam hati saya berpikir ‘ Pasti mereka senang sekali dengan relay kali ini. Jarang-jarang kan mereka berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia…’.

Waktu telah menunjukkan pukul 18.17 saat kami menginjakkan kaki di HIMATIKA. Tak terasa pula sudah akan selesai. Saat kami datang, HIMATIKA memberikan salam pendahuluan. Setelah obor diserahkan kepada mereka, jargon tak henti-hentinya dielukan. ‘HIMATIKA sampai mampus!’ memenuhi mulut seiring derap langkah menuju depan Fisika Teknik.

Sesampainya gerombolan kami di PlaWid, hanya terlihat beberapa mahasiswa HMFT. Maklum. Hanya untuk menerima obor (rute terakhir hari itu lagi!), banyak yang enggan datang. Baru besok-lah HMFT akan ramai. Sebelum menyerahkan obor, HIMATIKA mengucapkan salam kedatangan (apalah istilahnya) dan salam Ganesha kepada HMFT. Untuk ukuran jumlah HIMATIKA (yang saat itu sedikit), salam mereka terdengar gagah dan lantang di tengah remangnya malam. Setelah itu, penyerahan obor segera dilakukan.

Lagipula, waktu maghrib hampir usai. Maka, setelah obor dipegang oleh perwakilan HMFT, saya dan teman-teman Non-Pertandingan segera pulang. Lain halnya dengan panitia (pastinya) acara serta op-close Olim yang diharuskan berkumpul lagi usai melaksanakan shalat maghrib.

Relay Obor #8 (1)

Relay Obor #8 (1)

Rute : TERRA – NYMPHAEA – ISF – HIMATIKA – HMFT

Rabu, 8 Januari 2009, para panitia Olimpiade ITB berkumpul di kantin Bengkok mulai pukul 4 sore untuk melanjutkan acara relay obor yang hingga saat itu telah menginjak hari ke-8. Saya, yang mana termasuk sebagai panitia dalam divisi non-pertandingan dengan sub-divisi Lomba Band, telah datang sejak pukul 4 sore ke kantin Bengkok ITB. Namun, karena di sana baru ada Kak Upi, saya akhirnya kabur dulu. Cuma numpang lewat doing.

Kebetulan sekali, saat melewati perempatan CC, saya melihat sesosok imut di atas selasar CC Barat. Ya. Ia adalah Dudunk a.k.a Kak Aya (Sipil 06), Kadiv.Non-Pertandingan. Spontan saya menyusulnya naik ke selasar CC Barat. Ternyata di sana sudah ada Uwi (TeKim 07) dan Nella (FTI 08) yang juga merupakan anak-anak Non-Pertandingan sedang berkumpul bersama Dudunk, membahas properti yang diperlukan untuk Lomba Kreatif khusus TPB pada awal semester 2 nanti.

Jam tangan saya telah menunjukkan pukul 16.17 ketika saya ikut duduk dalam lingkaran tersebut. Dalam hati saya berkata, ’Bused. Mana gw tahu Non-Pert ada kumpul? Untung aja ketemu di sini. Jadi deh ikutan relay obor’ .

Ya. Hari itu merupakan hari pertama saya mengikuti relay obor. Setelah 7 hari ke belakang jadwal relay obor terbentur jadwal UAS, dan perasaan malas, akhirnya saya, dengan menguatkan hati, bisa juga datang ke acara-pengantar-Opening-Olimpiade ITB ini.

Yak. Langsung saja. Kami, non-pertandingan selesai kumpul hingga pukul 5 sore. Setelahnya kami berempat segera melangkahkan kaki menuju kantin Bengkok untuk selanjutnya berjalan bersama panitia Olim yang lain menuju kubu Terra a.k.a Geofisika yang letaknya memang dekat dengan kantin Bengkok.

Ternyata di sana, Terra telah berkumpul. Namun, hingga pukul 17.20, relay obor belum dimulai juga sebab Terra 2007 belum datang. Kabarnya, masih ada ujian. Tak berapa lama, akhirnya kami, para panitia, melihat gerombolan lelaki-orange datang berbondong-bondong menuju lokasi kami. Ya. Mereka adalah Terra 2007 yang datang dengan jumlah cukup banyak dan (terlihat) kompak.

Maka, sekitar pukul 17.35, Relay Obor #8 pun dimulai.

Jumat, 12 September 2008

IOM bagi2 Qur'an gratis

Alhamdulillah...

itu adalah kalimat pertama setelah Rizal, temen sekelas, memberi tahu informasi mengenai pembagian Qur'an gratis di IOM lt.2 perpus ITB hari ini. Udah lama niat pengen beli Qur'an yang bisa dibawa ke mana-mana, tapi ga kesampaian mulu'. Sebenarnya dalam rangka apa yah? Mungkin para ortu2 kita pengen anaknya ga melupakan Al Qur'an setelah beraktivitas macam-macam di ITB. Apalagi sekarang kan bulan Ramadhan.
Ternyata bulan Ramadhan di ITB ga ada bedanya sama bulan-bulan biasa. Karena jadwal kuliah en ngumpul unit atawa forum banyak menyita waktu gw, gw jadi ga merasakan nikmatnya bulan Ramadhan kayak pas di SMA dulu.
Sekedar cerita2 aja...
dulu di SMA abis dzuhur bisa baca Qur'an. Trus sore-sore ada acara buka puasa bareng. Sebelum adzan maghrib ada tausiyah singkat yang dibacain sama anak2. Apalagi waktu bangunin sahur.
Wah...rame abiss!
Hush...hush...balik lagi deh ke judul.
Btw, bagi2 Qur'an nya cuma dibuka hari ini aja ya? Menurut gw sayang karena itu cuma disampaikan dari mulut ke mulut. Temen2 gw banyak juga yang ga tahu tentang ini. Trus pada nyesel ga tau. Yah bukan salah mereka sih...hanya nasib kurang menguntungkan tidak bertemu teman sekelas yang baik seperti teman gw. Tapi emangnya ga ada publikasi lebih lanjut gitu dari IOM?
Toh muslim di itb banyak sebenarnya yang butuh. Tadi aja jam sepuluh-an gw jadi pendaftar ke-1054 lho. Padahal kan muslim di ITB beribu-ribu. Yang 2008 aja ada banyak.
Eh tapi gw ga tau IOM tu bagi2 Qur'an gratis untuk angkatan 2008 aja atau semua yang mau? Kan sapatahu tahun lalu pas bulan puasa juga ada buat angkatan 2007.
Yah pokoknya,
sekali lagi Alhamdulillah ketemu si Rizal euy!

Pesan terakhir:
Ayo semarakkan bulan RAMADHAN !

TPB (Tahap Pusing Bersama)

Mahasiswa ITB 2008!
Semakin lama semakin ketara apa tuh TPB. Bukan Tahap Persiapan Bersama, tapi menurut gw Tahap Pusing Bersama. Masa senin besok kuis kalkulus-vck? Yah tapi mestinya gw bersyukur juga krn dosennya masih ngasih tau. Untungnya nasib gw ga seperti beberapa teman di TPB juga yang ga dikasih kabar. Walhasil, ga ada persiapan apa-apa.
Well...
Tahun pertama di ITB katanya yang paling menyenangkan (belom kerasa tuh). Jadi, nikmatin lah itu semua. Tapi kalau kebablasan ya selamat lah ga dapat prodi yang diinginkan. Apalagi di DO. Oh jangan sampai...
Tahun pertama tuh enaknya ya banyak-banyakin temen aja sih. Mulai dari sekelas dulu. Alhamdulillah sekarang gw 'hampir' hafal semua. Cewe'nya ya pastilah. Cowo'nya aja yg belom. Semacam meng'group' gitu jd yh rada susah bwt kenalan.
Back 2 d topic yah...
Mungkin emang ga semua temen2 TPB ngerasain, tapi mendengar comment2 banyak orang yang gw temui en ajak ngobrol en bla bla bla...en berdasarkan perhitungan ngaco gw tuh 80% lebih anak TPB merasakan hal yang sama kayak gw! Ahhh senangnya ga sendiriaan...

Ayo ITB 2008!
Ayo TPB 2008!
Ayo FTSL 2008!
Ayo Ayo Ayo...
Beli obat pusing bersama!