Tampilkan postingan dengan label Kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2009

ITB FAIR 2010


BERSINAR
::Bergerak :: Sinergi :: Berkarya

Contact :
Facebook
Plurk

It's not just a title
Sudah sebuah kepastian bahwa ITB, sebagai Institut Seni, Sains, dan Teknologi memiliki ragam potensi. Potensi-potensi ini kini tidak dapat dipungkiri memiliki perbedaan satu sama lain, namun yang paling utama disini adalah ragam keprofesian. Ragam inilah yang menjadi dasar dari mahasiswa ITB. Ragam ini pulalah yang menjadi kebutuhan dasar dan faktor identitas dari mahasiswa ITB.

Untuk menjawab hal-hal itu, tergagaslah ide Ganesha Bersinar, yang diwujudkan dalam ITB FAIR 2010. Yang proses keberlangsungannya akan diadakan dalam 2-3 hari. Namun, sebenarnya titik gerakan utama ini berasal dari gerakan 5 bulan yang akan memiliki dampak berjangka panjang.

Bagaimana dengan langkah-langkahnya?
BERGERAK yaitu sebagai aksi memfasilitasi gerakan-gerakan keprofesian yang telah tersebar di berbagai himpunan mahasiswa jurusan
SINERGIS
sebagai aksis memeratakan kemampuan keprofesian KM ITB
BERKARYA sebagai penginspirasi atas pergerakan dunia keprofesian

Tujuan utama diadakan ITB FAIR 2010 itu sendiri adalah,
"Mensinergikan gerakan keprofesian ITB dengan menciptakan muara gerak pengembangan komunitas sebagai suatu semangat bersama agar tercipta suatu `new movement of students' di Indonesia".
:: puncak eskalasi Kabinet KM ITB, inisiasi berkreasi dan berkarya,manfaat bagi orang lain, kolaborasi dan prestise dan apresiasi ::

ITBFAIR 2010 menjadi :
1.Puncak kegiatan Keprofesian mahasiswa
2.Memberi manfaat secara langsung kepada Masyarakat (ex.instalasi karya) juga secara tidak langsung kepada masyarakat (ex.pendidikan, informasi)
3.Momentum inovasi IPTEKS sebagai solusi permasalahan yang ada
4.Mendorong partisipasi, komunikasi dan kolaborasi lintas keprofesian maupun sinergisasi dan kerjasama dengan berbagai pihak


(The Event.. National Scale, Once In Two Years)
this is OUR BIG MOVEMENT !

Latar belakang dan tujuan ITBFAIR 2010 , dituangkan dalam berbagai bentuk rangkaian acara:
1) Community Development Contess (CDC) :
CDC melombakan gagasan mahasiswa dari lintas jurusan untuk bersama- sama memecahkan suatu permasalahan di masyarakat berupa rancangan program pengembangan komunitas. Basis peserta merupakan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang berkolaborasi bersama HMJ lainnya dan peserta dari perguruan tinggi lain.
2) Idea Mall
Mall ide adalah suatu wahana tempat berkumpulnya berbagai ide yang inspiratif. Konsep mall ide terdiri dari berbagai display karya expertise di bidang pengembangan komunitas (LSM), display karya expertise yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
3) Konferensi Mahasiswa
Kehadiran mahasiswa Indonesia diharapkan mampu dimanfaatkan secara lebih. Mahasiswa dari seluruh Indonesia diharapkan mampu saling bertukar pikiran akan isu integrasi keprofesian dengan pengembangan komunitas.
4) Expo
Publikasi karya umum mahasiwa ITB dan Pameran karya dan inovasi mahasiswa.
5) Karnaval
Karnaval merupakan suatu trademark positif.
6) Art and music performance
Seni dan musik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Penampilan seni dan musik diharapkan mampu menyemarakkan ITB FAIR 2010.
7) Launching Majalah
Majalah keprofesian ITB diharapkan mampu menjadi enzim penjaga sustainability budaya berkarya di ITB khusunya dan mahasiswa Indonesia umumnya. Konsep majalah keprofesian ini akan dibuat paperless alias digital yang dipasarkan melalui situs- situs jejaring sosial.
8) Community Service
Kegiatan ini dimaksudkan agar ITB FAIR 2010 tetap membumi dengan melakukan langkah konkret jangka pendek kepada masyarakat.
9) Zero waste event
10) Kegiatan-kegiatan lainnya yang ternaung didalam PRE and EVENT.
11) Etc.




::we wait you::
to support this event


Senin, 14 September 2009

Sempat Wawancara Calon Rektor Baru ITB

Sekitar akhir bulan Juli, mendadak sore itu Yunus PL08, sesama anggota unit Boulevard, meminta saya menemaninya mewawancarai (lebih tepatnya mencatat jawaban karena dia tidak punya alat rekam) salah satu calon rektor baru ITB di gedung Anex. Sebut saja Bapak A (jelas bukan nama sebenarnya). Yunus menjanjikan wawancaranya hanya sebentar karena sang narasumber memang dikenalnya sebagai orang yang hemat bicara.

Yunus sebenarnya merencanakan janji mewawancara pukul 13.00. Namun, kebetulan saat itu kami sesama taplok PROKM sedang menyelesaikan panji bersama sebatalion. Keasyikan sepertinya dan jadilah Yunus sengaja mengaretkan jadwal wawancaranya sampai pukul 14.30 tanpa memberitahu si Bapak A terlebih dulu.

Tiba di gedung Anex, kami segera menuju ruangan si Bapak A. Salah satu stafnya berkata, “dari Boulevard? Lho kan janjinya jam 1.” Ya. Dengan sangat tidak enak hati kami hanya mengangguk dan nyengir. Untung si ibu itu membolehkan kami masuk karena Bapak A sedang tidak ada kegiatan (atau sengaja meniadakan kegiatan semacam rapat demi wawancara dengan kami yang temanya “Profil Calon Rektor Baru ITB” Bisa sekalian promosi kan. Who knows)

Wawancara dimulai. Tanpa alat perekam, tangan saya siap mencatat seluruh jawaban si Bapak A. Apa ya pertanyaan pertama? Saya lupa. Yang pasti ketika ditanya hobi beliau, dijawabnya “olahraga”.

Beranjak ke pertanyaan ke-berapa saya lupa, tentang visi mencalonkan diri sebagai rektor. Inti jawabannya ialah karena beliau sudah terlalu lama menjabat di rektorat. Bertahun-tahun. Tapi bukan sebagai rektor, tentunya. Lalu, beliau mencita-citakan nuansa kampus yang akademis.

Sampai kepada pertanyaan berikut.

Yunus : “Jadi, menurut Bapak apa kekurangan dari kinerja rektorat sekarang?”

Bapak A, “Ya kalau di bagian saya sih saya lihat sudah bagus, ya. (Ya iyalah, bagian Anda). Yang kurang itu ada di bagian kemahasiswaan, ya.”

Hening sejenak. Bapak ini memang hemat bicara.

Yunus : “Bisa tolong dijelaskan, Pak, apa yang kurang?”

Bapak A : “Masalah mahasiswa itu. Jurusan. Yang semacam arak2an dan perpeloncoan itu.”

Yunus : “Kaderisasi, maksud Bapak? Apa yang menurut Bapak kurang dari situ?”

Bapak A : “Ya. Itu. Kaderisasi. Yang kurang? Ya Karena itu. Saya lihat masih ada perpeloncoan. Jadi ya dihapuskan saja semua. Nggak ada gunanya. Arak-arakan juga. Bikin pertengkaran saja. Dihapus saja itu semua. Lebih baik kita membuat penemuan2, membuat karya yang bisa dibanggakan.”

Yunus : “Oh jadi Bapak kurang setuju dengan adanya arak2an dan kaderisasi ya, Pak?”

Bapak A : ”Ya iya.”

Yunus : ”Apa semua kaderisasi di ITB menurut Bapak seperti itu, Pak? Dan kalau begitu, jika Bapak nanti menjadi rektor, kegiatan semacam itu apakah akan ditiadakan?”

Bapak A : ”Ya iya. Pokoknya hapus saja semua bentuk kegiatan kaderisasi sampai sekecil apapun. Nggak perlu ada. Kita tingkatkan saja sisi akademisnya. Ini kan institut. Tempat orang2 belajar.”

Yunus : ”Kalau arak-arakan, Pak?”

Bapak A : ”Sama saja. Arak-arakan itu bagusnya ditiadakan juga. Kerjanya kan cuma bertengkar saja antar jurusan.”

Tanpa berniat berdebat, kami akhirnya menyudahi wawancara. Usai pamit, kami mengobrol sedikit di angkot mengenai hasil wawancara tadi. Intinya, zaman rektor sekarang saja, mahasiswa merasa berat (apa ya bahasanya?) seolah dicekoki akademis melulu, apalagi kalau si Bapak A ini yang menjabat rektor baru nanti?

Tidak bermaksud menyudutkan salah satu pihak. Karena keyakinan pribadi berasal dari pendapat mas/jeng (baca: pembaca) masing2. Mungkin banyak yang mendukung visi si Bapak A, beranggapan sama bahwa segala bentuk kegiatan kaderisasi itu tidak usah ada, begitu pula dengan arak2an. Berkarya adalah perilaku yang lebih baik untuk menunjukkan eksistensi institut dan berkontribusi. Silahkan bentuk argumentasi sendiri.

Tapi kalau saya pribadi sih, tidak setuju. Arak-arakan sesungguhnya menjadi hiburan besar bagi mahasiswa, terutama TPB (dulu saya menyaksikan wisuda saat TPB, ya saya sih senang2 saja, seperti lihat karnaval). Lalu kaderisasi. Menilik dari kegiatan kaderisasi, contohnya, himpunan dari jurusan saya, meski kegiatannya baru sebatas kulit, tapi saya pikir tanpa adanya rangkaian kegiatan tersebut, sebutlah tugas2 angkatan. Angkatan saya mana pada bisa berusaha saling mengenal lebih dekat dari awal masuk jurusan? Sulit untuk bisa dekat kalau tidak difasilitasi dengan kegiatan semacam itu di sela2 kepentingan akademis. Karena kami seangkatan, bukan hanya setahun-4 tahun bareng2, tapi seumur hidup. Begitu pula hubungan angkatan 2008 dengan senior maupun calon adik angkatan. Bakal terikat seumur hidup dalam komunitas Teknik bla bla bla ITB. Dan usaha menimbulkan rasa kebersamaan, memunculkan rasa peduli sesama, tidak bisa hanya dengan belajar di kelas/laboratorium. Yakin deh.

Kembali lagi. Arak-arakan, sesuai kata Pak Sumanto, salah satu dosen di prodi Matematika ITB, pada dasarnya diperlukan untuk menunjukkan pada warga, khususnya warga Bandung, akan keberadaan sarjana-sarjana ITB yang siap terjun langsung ke masyarakat. Kaderisasi, kata saya (biarin deh disebut sotoy) pada dasarnya diperlukan untuk membentuk insan-insan/generasi penerus sebuah komunitas/organisasi yang sesuai dengan visi komunitas/organisasi tersebut. Toh keduanya banyak manfaatnya, kata saya lagi. Jadi kenapa harus dihapuskan sampai tuntas tas tas?

Yang dihapus mah pelaksanaannya yang berkaitan dengan tindak kurang terpuji saja (duile…bahasanya), misalnya perkelahian antar jurusan di arak2an (sayangnya arogansi himpunan & musuh himpunan seolah sudah membudaya di beberapa jurusan) dan hukuman fisik secara langsung antara senior terhadap juniornya (contohnya menampar si junior, saya dengar ada nih di ITB. Cuma dengar, belum tentu benar). Tambahan lagi, kaderisasi himpunan salah satu tujuannya memperkenalkan keprofesian kan? Bagus dong.

Wah ternyata sudah malam pas menulis ini. Disudahi sajalah tulisannya. Tulisan yang isinya hanya selentingan tentang pendapat saya mengenai kegiatan di kampus. Setiap pribadi bisa berbeda. Tapi tidak ada salahnya kan berbagi pendapat?

Minggu, 05 Juli 2009

Apakah Mas/Jeng Mahasiswa?

Kemarin, 4 Juli 2009, seperti biasa saya mengikuti diklat ca’pan PROKM 2009. Siang itu entah apa namanya, saya sih menyebutnya Lingkar Wacana karena konsepnya memang mirip seperti itu. Ada mentor, diskusi, dan pembahasan bertema peran mahasiswa.


Langsung saja pada pembahasan yang paling menggugah saya. Yakni ketika mentor saya, kak Rahman Agil (FI 07), memberitahu fakta bahwa pemasukan ITB itu berasal dari 20% BPP&BPPT mahasiswa, 30% proyek dosen, dan 50% uang rakyat. Ya. Uang rakyat yang dimaksud ya yang berasal dari pajak.

JEGER!!!

Baru tahu saya…nggak gaul banget ya?!


Sebenarnya kalau ditarik lebih jauh, bagi saya mahasiswa tidak menghendaki dibiayai oleh rakyat. Rakyat juga tidak menghendaki membiayai mahasiswa. Wong cari makan ‘aja susah. Tapi ya beginilah sistem. Sistem inilah yang membuat mahasiswa dibebani amanah oleh rakyat.


Namun, bagi saya justru amanah ini seharusnya dapat menjadi alasan kuat mengapa mahasiswa harus benar2 mengembangkan kemampuan dan memenuhi kapasitas dirinya selama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Ya untuk menjaga sekaligus mengimplementasikan harapan2 yang diinginkan dari amanah tersebut.


Sederhananya, biaya kuliah mas/jeng kan tidak murni berasal dari ORANG TUA mas/jeng ‘aja kan? Ada uang rakyat juga di situ kan? Oleh karena itu, kalau ada mahasiswa yang berkuliah di ITB, berarti urusannya bukan cuma antara pribadi tersebut, keluarga, dan Tuhan. Tapi ada unsur rakyat juga di situ.


Jadi baru kemarin saya menemukan satu alasan lagi mengapa mahasiswa memiliki peranan penting dalam kemajuan bangsa. Seperti halnya Salam Ganesha. Bakti kamu untukmu: BANGSA. Ya karena mahasiswa ternyata memang memiliki keterikatan terhadap rakyat (bangsa). Mereka dibiayai untuk mencari ilmu oleh rakyat, maka sudah sepantasnyalah ada timbal balik. Tidak heran ya rakyat memiliki harapan besar terhadap mahasiswa. Lha wong uang mereka kita yang pakai kok. Hahaha.


Jadi, kalau kita menyia-nyiakan uang tersebut, sama saja ‘kan ya dengan menyia-nyiakan amanah rakyat?

Lantas, apakah situasi ini menjadikan posisi kita sama seperti para pejabat pemerintahan yang diembani amanah oleh rakyat? Yang apabila disia-siakan, berarti menyebutkan bahwa perilaku mahasiswa sama saja dengan koruptor.

Meskipun amanah diberikan (kepada mahasiswa dan pemerintah) dengan cara yang berbeda dan perlu diwujudkan dengan cara yang berbeda pula, ini tetap disebut amanah ‘kan?


Mungkin sebagian orang berpikir ya. Dan sebagian tidak. Tapi kalau mas/jeng menanyakan kepada saya, saya sendiri akan menjawab “YA”. Karena amanah ya tetap amanah. Apapun bentuknya, tetap harus dijaga sebaik mungkin.


Makanya sekarang saya mulai harus mempertimbangkan jika ingin mengecam kerja pemerintah (yang dianggap negatif oleh media) Perlu untuk dikaji lebih dalam terlebih dahulu dan dicari dari berbagai sumber. Tidak boleh sembarangan menghujat pemerintah. Karena saya tidak mau jadi orang munafik. Menghujat orang lain tapi diri sendiri pun menyia-nyiakan. Tidak mau ah.


Tapi sayangnya ya, berkaitan dengan uang rakyat itu, di akhir pembahasan kak Agil mengucapkan kalimat ini nih:

“Jadi, apakah masih pantas kita BOLOS kuliah?”

Nah kayaknya kalimat itu yang paling kedengaran familiar deh di telinga saya.