Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2009

Syukur

Allah memang tahu caranya membuat manusia mensyukuri nikmat akan sehat lewat sakit

Jumat, 22 Mei 2009

Part 1 - Muslim Waspada Terhadap Simbol, Perlukah...?

Saya hanya ingin mengatakan bahwa kita sebagai muslim harus waspada terhadap simbol-simbol yang telah banyak beredar. Cari tahu arti simbol tersebut. Jangan sampai ketidaktahuan kita menjerumuskan kita pada kesesatan.

Kasus pertama :
Saya sedang menelusuri blog orang2, lalu sampailah saya pada blog ini:

http://ibnuqalil.blogspot.com/2008/04/mereka-makin-berani.html

Blog ini milik orang Malaysia (tapi jangan sensi dulu dengar kata Malaysia), tapi bisa jadi pelajaran untuk muslim di Indonesia juga. Intinya orang Malaysia itu menemukan sebuah gelas plastik bergambar koala sedang melukis seperti di bawah ini:

Jika dibalik menjadi :

Nah lho...memang makin berani mereka...

Oke. Saya tidak bisa menerima keberadaan gelas tersebut. Masa' posisi Allah disamakan dengan air? Lagipula nanti gelas plastiknya akan dibuang. Berarti sama saja dengan membuang...............

Na'udzubillah min dzalik.


Sabtu, 09 Mei 2009

Syair Sang Sufi

Ilmu dan Cinta

Ketidakramahan dari orang bijak lebih baik daripada kebaikan hati orang bodoh.

Nabi berkata, “Kebencian dari kearifan lebih baik daripada rasa cinta yang datang dari orang bodoh.”

Syair seorang sufi, Jalaluddin Rumi, penyair yang karyanya sangat saya kagumi, syair yang menarik perhatian saya akan hubungan antara cinta dan kebodohan. Sajak-sajaknya memang banyak yang memuat keterkaitan antara cinta dan kebodohan. Contoh lain di bawah ini:

Dengan cinta, pahit menjadi manis

Dengan cinta, tembaga menjadi emas

Dengan cinta, sampah menjadi jernih

Dengan cinta, yang mati menjadi hidup

Dengan cinta, raja menjadi budak

Dari ilmu, cinta dapat tumbuh.

Pernahkah kebodohan menempatkan orang di atas tahta begini?

Entah apa maksud sebenarnya antara cinta dan ilmu dalam syair di atas. Hanya satu hal yang ingin saya kemukakan, bahwa menurut saya memang benar terdapat keterkaitan antara keduanya. Ilmu menimbulkan cinta.

Ilmu menimbulkan cinta .

Apakah bisa seseorang memiliki rasa cinta terhadap sesuatu yang tidak mengandung unsur ilmu? Menurut saya tidak mungkin. Tanpa suatu unsur ilmu, seseorang tak akan mampu bertahan di samping orang lain. Karena toh hari-harinya diisi oleh penurunan, bukan peninggian.

Lantas, Tuan Rumi, apakah dasar ilmu ini yang mengadakan cinta seorang sufi?

Seolah begitu dalam

Pun luas

Pun bebas

Saya yang hanya manusia biasa, dapatkah menemukan keindahan cinta layaknya cinta seorang sufi terhadap Tuhannya?

Jumat, 23 Januari 2009

Bukti : Obama Adalah Yahudi


Tahukah kalian apa yang sedang dilakukan Obama dalam gambar di bawah ini?







Untuk mencari tahunya, kunjungilah :
1. http://secretsocieties.wordpress.com/2008/11/12/terbukti-barack-obama-adalah-yahudi/
2. http://rumi-moslem.blogspot.com/

Selasa, 20 Januari 2009

Boycotting Israel

Saya di-tag sama si Khemal nih...



here's what we should do. it's simple:
- list down 5 of the products from the list below that you are boycotting.
- then list down 5 of the products that you will try your best to boycott.
- finally list another 5 of the products that you find it hard to boycott.
- tag 5 others.


this tag is to get everyone to read the list below carefully and identify which products affects your life and the lives of the palestinians most! you can also compare your list with your friends and see: if they can boycott one product that you haven't been boycotting, why can't you start to boycott the product too?


5 products i'm boycotting
  • Mc Donalds
  • Coca Cola
  • Carrefour
  • Starbucks
  • KIT KAT
5 Products i will start to boycott
  • Fanta
  • Sprite
  • Nestle
  • Maggi
  • Danone
5 products that i find hard to boycott
  • Disney
  • Intel
  • FOX Entertainment
  • Nokia
  • National Geographic
5 people i tag
1. Adam
2. Tito
3. Vina
4. Naufal
5. Jupri

Jumat, 09 Januari 2009

SMS Berlabel "Demi Allah"

SMS Berlabel DEMI ALLAH

Al-Qayyum, Al-Majid, Al-Wajid, Al-Wahid, Al-Ahad, As-Shomad, Al Qadir. Sebarkan 7 Asma ALLAH ini pada 15 orang…Insya Allah keinginanmu akan tercapai (DEMI ALLAH Jangan Diremehkan).

Katakan ini dengan pelan : ALLAH AKU CINTA ENGKAU & AKU BUTUH ENGKAU. Datanglah ke hatiku.
Kirim ke 10 orang. Lihat keajaiban hari ini. Tolong jangan dihapus. Ini benar-benar terjadi. SMA dari Ibu ALISAID : Juru kunci sayyidina Mekkah. Bermimpi bertemu ROSULULLAH SAW. Beliau berpesan “Kuatkan Aqidah dalam ibadah karena dunia ini sudah goyah dan tua”. Sebarkan SMS ini ke 10 muslim. Maka Insya ALLAH dalam jangka 10 hari akan mendapatkan riski besar & jika tidak, tunggulah kesulitan yang tiada henti.
DEMI ALLAH

Kedua SMS tersebut sesungguhnya hanyalah dua dari beratus-ratus SMS sejenis yang bertebaran di Indonesia lewat perantara handphone. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah embel-embel “DEMI ALLAH” yang tertera di akhir kalimat.
Dilihat dari bunyinya, kedua SMS bersikap seolah menjanjikan si penerima SMS riski dan pada SMS kedua terdapat pula (seperti) ancaman. Tengoklah dari kalimat ‘Jika tidak, tunggulah kesulitan yang tiada henti’.
Tak pelak lagi, semua muslim semestinya tahu bahwa riski itu datangnya dari Allah, bukan dari SMS. Dan janji serta ancaman itu tertera dalam Firman-Nya, sekali lagi BUKAN DARI ISI SMS. Jadi, haruskah kita mempercayai isi SMS jenis tersebut?
Saya jadi teringat akan pelajaran Fiqh yang pernah saya pelajari di SMA dulu, (kalau tidak salah) bahwa seorang manusia wajib malaksanakan puasa kafarat, yakni puasa 3 hari yang dilakukan karena bersumpah atas nama Tuhannya. Berdasarkan definisi tersebut, saya menyimpulkan bahwa kata-kata ‘atas nama Tuhannya’ dapat disamakan dengan kata-kata ‘Demi Allah’.
Maka, SMS yang ditujukan kepada saya dan yang tersebar di belahan Indonesia lainnya, bukanlah suatu candaan belaka, karena hal ini sudah membawa-bawa nama Tuhan. Timbullah pertanyaan dalam benak “Apakah hal-hal seperti ini harus dipercaya dan dilaksanakan?”
Satu hal yang paling meresahkan adalah kekhawatiran saya akan terjadinya perbuatan syirik. Kita sebenarnya tidak tahu apakah bunyi SMS ini merupakan hal yang patut dipercaya atau tidak. Ditambah dengan embel-embel “Demi Allah”, malah justru menimbulkan kebimbangan apakah kita harus mempercayainya atau tidak.
Satu lagi. Mungkin bisa saja kita berdalih “Ah…saya tidak terlalu percaya. Jadi ya tidak apa-apalah kalau melaksanakannya (mengirim ke 10/15 orang muslim lainnya).” Akan tetapi sebenarnya, dengan melaksanakan hal tersebut, bukankah sama saja dengan kita mempercayainya? Atau kita dapat berdalih “Kirim SMS ke operator lain murah. Jadi ya tidak apa-apalah kalau dilaksanakan.” Lalu kita melaksanakannya, mengirimkannya ke muslim lain. Tetap saja, bukankah dengan melakukan sesuai perintah SMS, berarti mempercayainya?
Yang membuat saya bingung adalah penggunaan kata “Demi Allah”. Kalau memang si pembuat SMS tersebut ingin menyampaikan pesan yang ‘Benar’ menurutnya (isi SMS tersebut), lantas, mengapa harus menggunakan dua kata tersebut? Apakah ia takut apabila dua kata tersebut tidak digunakan, malah tidak ada yang mau melaksanakan perintah dalam SMS tersebut?
Masalahnya, sekali lagi, berdasarkan pelajaran Fiqh, saya yakin kata ‘Demi Allah’ tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi untuk ditulis dalam isi-isi SMS yang masih diragukan kebenarannya. Secara isi SMS tersebut bukanlah Firman / Sabda-Nya dan Rasul yang tidak dapat diganggu-gugat lagi kepastiannya.
Maka, melalui tulisan ini, saya berharap bagi siapapun yang lebih mengerti akan hukum-hukum menyangkut kasus ini, harap memberi komentar. Lebih tepatnya saran dan sharing ilmu pengetahuan. Jikalau pendapat saya dalam tulisan ini kurang tepat, mohon dibenarkan.
Terima kasih.